Kamis malam kemarin suhu badan Khonsa mendadak mencapai 38 derajat. Hingga jumat dinihari sempat mencapai 39,5 derajat celcius dan 2x muntah. Saya memberinya penurun panas, dan pagi harinya memutuskan membawanya ke klinik karena tiap kali minum pasti keluar lagi. Seharian kemarin suhunya naik turun di kisaran 38 hingga 39,6 derajat, membuat kami khawatir. Kompres, memberi cairan lebih banyak, skin to skin contact terus dilakukan sambil berdoa tentu saja, agar suhunya tak terus naik.
Memiliki anak bayi/balita memang memberi saya banyak pelajaran. Momong tidak hanya sekedar memberi ASI/makan, tidak sekedar menemani bermain, tetapi juga bagaimana saya harus bersikap saat si anak jatuh sakit. Ini memang bukan pertama kalinya dia sakit, tapi tetap saja saya selalu merasa gagap dan panik saat mendapati Khonsa tidak enak badan.
Waktu usianya masih kurang dari 2th dan masih ASI, treatment termujarab yang kami berikan adalah dengan memberikannya lebih banyak ASI. Batuk pilek, flu, demam, dan bahkan diare selalu dilawan dengan ASI. Alhamdulillah walaupun tidak kemudian sembuh begitu saja, tetapi ASI sangat membantu “melawan” penyakit-penyakit yang menyambangi. Setelah berpisah dengan ASI, treatment yang dilakukan tentu saja berbeda. Harus lebih banyak mencari tahu penyebab dan apa-apa saja yang harus dilakukan ketika mendapati si anak mendadak tak enak badan. Jadi ketika anak sakit, paling tidak ada bayangan hal-hal apa saja yang harus dilakukan.
Lantas, perlukah mengunjungi dokter saat anak sakit? Kami pribadi berprinsip, jika memang kondisinya sangat darurat dan mengkhawatirkan, mengunjungi dokter merupakan hal yang harus dilakukan. Dulu pernah Khonsa muntah sangat banyak pada jam 2 dinihari, dan berkelanjutan sampai pagi. Asupan apapun yang masuk selalu keluar kembali. Bahkan sesendok air putih. Melihatnya lemas dan tak bertenaga, jam 4 pagi saya membawanya ke UGD rumah sakit terdekat, alhamdulillah tindakan tersebut sangat membantu.
Lalu pernah suatu saat, di bibirnya ada banyak bercak-bercak seperti sariawan. Saat itu banyak yang menyarankan untuk dioles madu, tetapi setelah saya lakukan bukannya membaik, malah mendadak bibirnya seperti terserang jamur yang membuatnya jadi kering dan berdarah di sana-sini bahkan jika hanya sedikit digerakkan. Saya membawanya ke dokter anak, diberi salep khusus yang juga sangat membantu menyembuhkan dan mengusir jamur-jamur tersebut.
Saat anak sakit, artinya saat kita harus belajar bersabar. Bersabar begadang semalaman mengompres misalnya, atau semalaman terus menggendongnya lantaran saat sakit biasanya si kecil jadi lebih manja. Bersabar menyuapi walaupun hanya sesendok dua sendok yang mau dimakan. Bersabar meladeni permintaannya (biasanya saat sakit si kecil lebih banyak maunya). Saat anak sakit, semua hal terasa tidak enak. Tidur tak nyenyak, makan tak berselera. Mau beraktivitas juga pasti enggan. Kalau boleh, ingin rasanya rasa sakit yang si kecil rasakan dipindahkan ke kita seluruhnya.
Saat anak sakit, sebagai orangtua kita tak boleh panik. Harus tenang. Tenang lebih membantu untuk memutuskan treatment dan sikap yang kita ambil. Dan tentu saja, yang tak boleh tertinggal adalah do’a
. Do’a ini yang membuat hati lebih tenang dan bersabar. Sebagai ibu, saat anak sakit merupakan salah satu saat-saat tersulit. Dan saya jadi lebih berterima kasih lagi kepada ibu saya, mengingat dulu beliau pasti juga mengalami masa-masa ketika saya dan adik saya jatuh sakit.
***
Hari ini alhamdulillah melihat senyum ceria Khonsa kembali. Sejak pagi tadi suhu badannya berangsur turun. Lega rasanya
.