Mengurus Akta Kelahiran Anak di Tangerang Selatan

Pada 2 kelahiran anak sebelumnya kami tidak melewati fase penting ini karena semuanya sudah termasuk fasilitas paket persalinan yang diberikan oleh pihak bidan maupun RSIA. Anak pertama yang lahir di Jogjakarta, akta lahirnya diurus oleh bidan tempat kami melahirkan, demikian pula saat Rahma walau lahir di Tangerang Selatan namun akta kelahirannya juga diurus oleh RSIA. Tahu beres aja judulnya. Namun pada kelahiran anak nomor 3 kali ini kami berkesempatan untuk menambah pengalaman mengurus akta lahirnya sendiri. Dan berikut ini sedikit berbagi pengalaman mengurus akta lahir di Tangerang Selatan.

  1. Yang pertama, tentu persyaratannya adalah Surat Keterangan Lahir anak sudah dibuat oleh klinik/bidan/RS tempat melahirkan. Pastikan isinya benar, baik identitas orangtua maupun bayi. Jangan lupa pastikan namanya sudah fixed sebelum membuat akta, hehe.
  2. Kedua, siapkan persyaratan berikut ini: Surat Keterangan Lahir dan fotokopinya, fotokopi KTP Ayah dan Ibu si anak, fotokopi Kartu Keluarga dan fotokopi buku nikah orangtua (full 1 buku). Selain itu siapkan saksi dan fotokopi identitasnya/KTP sebanyak 2 orang (boleh siapa saja asal tidak ada di KK, kemarin kami minta tolong tetangga depan rumah).
  3. Ketiga, minta pengantar untuk mengurus akte lahir dari pak RT dan pak RW. Kenal kan sama pak RT dan pak RW? Hehe. Datang saja ke sana dan sampaikan bahwa kita butuh pengantar untuk mengurus akta lahir anak.
  4. Keempat, ke kelurahan. Ngapain? Minta surat pengantar yang nantinya akan dibawa ke disdukcapil untuk membuat akta lahir anak. Nah fotokopi KTP saksi yang kami tuliskan tadi diminta pada saat kami mengajukan surat pengantar ke kelurahan. Karena saat itu belum bawa jadi bolak balik harus mengambil dulu. Di kelurahan biasanya tidak langsung jadi, kemarin kami butuh 2 hari. Masuk berkas hari ini, diambil hari kerja berikutnya.
  5. Kelima, setelah mendapat pengantar dari kelurahan saatnya ke disdukcapil. Disdukcapil Tangsel ada di daerah Cilenggang BSD, sebelahan sama DPPKAD Tangsel. Kalau bingung, buka saja google maps wkwk. Pada saat ke disdukcapil ini selain membawa berkas-berkas tadi, siapkan juga 2 buah meterai dan stok sabar. Haha. Ada formulir yang harus diisi di sana dan beberapa lembar. FYI, di sini isian formulir butuh tanda tangan saksi, jadi saksinya juga harus diajak. Atau, pasca mendapatkan formulir, diisi lalu kita bawa pulang dulu dimintakan tanda tangan ke para saksi kemudian balik lagi ke disdukcapil. Antriannya lumayan mengular, itulah mengapa siapkan stok sabar sebanyak-banyaknya. Saat itu hari Jumat, kami datang jam 9 pagi dan dapat nomor antrian 47. Petugasnya hanya 1 dan kepotong waktu istirahat dan sholat Jumat, baru selesai dilayani sekitar jam 2 siang. Akta tidak langsung jadi, hari itu kami mendapatkan bukti tanda terima pengajuan dan kata petugas hasilnya bisa diambil sekitar 10 hari kerja berikutnya. Kami mengambil akta lahir Agha selang 14 hari kerja pasca berkas diterima dan alhamdulillah sudah jadi. 

Nah, mudah kan ternyata. Nggak seribet yang dibayangkan. Yang penting kita mau meluangkan waktu karena nggak bisa selesai dalam satu hari. Oiya, untuk mengurus akta kelahiran ini semuanya gratis alias tidak dipungut biaya. Alhamdulillah. Setelah aktanya jadi langkah berikutnya adalah update Kartu Keluarga.

Oiya, kami mengapresiasi pelayanan disdukcapil Tangsel yang saat ini sudah semakin baik. Beberapa bulan lalu saya sempat ke sana untuk legalisasi fotokopi e-KTP, saat itu pelayanannya juga sudah mulai baik sih hanya saja tempatnya masih sempit. Sekarang sudah pindah (masih satu area kantor) namun tempatnya jauh lebih luas dan lebih bagus. Ini beberapa foto-fotonya:

Kantor Disdukcapil Tangsel (maaf ada penampakan :P)

Monitoring Pelayanan dan Nomor Antrian

Loket dan Tempat Menunggu Antrian

Drama Menyusui: Tentang Tongue Tie dan Frenotomi

Dari ketiga kali punya bayi dan menyusui, masing-masing ternyata punya cerita dan drama sendiri. Bener kok kalau banyak yang bilang: menyusui itu nggak semudah teori. Betul 1000%. Dan buat emak bekerja, tantangannya akan ditambah dengan perihal stok menyetok asip. Nah.

Setelah Agha lahir, seperti halnya kakak kakaknya saya langsung menyusuinya walau bisa dibilang kolostrum baru keluar sedikit sekali. Pedelah pokoknya. Kalau ada yang tanya: ASInya sudah keluar? Dengan segera dijawab: sudah dong :-D. Nah drama menyusui Agha ini baru dimulai setelah beberapa hari pasca pulang dari RSIA.

Awalnya, saya pikir normal kalau bayi tertidur ketika menyusu. Tapi lama-lama kok curiga: ini bocah kenapa sebentar banget ya durasi menyusunya. Setelah itu saya mengamati setiap kali menyusu dalam kondisi LDR, pasti ASI yang diminum Agha akan mbleber keluar. Mbleber ke mana mana. Bukan sekedar netes di sudut-sudut mulut seperti kakak-kakaknya dahulu. Jadi semacam mulut Agha tidak bisa menutup rapat ketika menyusu.

Teruskan bacanya…

2017: Berlima

Hello 2017 :).

Di awal tahun 2017 ini , alhamdulillah anggota keluarga kami bertambah 1 lagi. Dari berempat menjadi berlima :D.

11 Januari kemarin lahir anak ketiga kami, laki-laki yang diberi nama Agha. Agha lahir tepat pukul 03.05 dinihari di RSIA yang sama dengan tempat kelahiran kakaknya hampir 4 tahun yang lalu: RSIA Buah Hati Ciputat.  Agha lahir dengan BB 3700 gr dan panjang 50 cm melalui persalinan normal.

Mohon do’a semoga Agha senantiasa sehat dan menjadi anak sholih. Aamin. Ini foto Agha beberapa jam pasca dilahirkan:

 

Service Center LG di Tangerang Selatan

Awal Maret lalu saya kehilangan stylus hp LG yang saya miliki. Entah bagaimana, pasca mudik ke Yogyakarta mendadak si stylus hilang begitu saja dari posisi biasanya. Dan dudulnya, saya baru ngeh setelah sekian hari sejak kembalinya kami ke Tangerang. Padahal si stylus itu terakhir dipakai adalah saat mudik. Jadilah di bagian stylus meninggalkan lubang menganga kosong melompong. Haha. Selain jadi tidak lengkap, rasanya terlihat tidak indah dipandang mata :P.

Sebelum memutuskan menghubungi service center LG, terlebih dahulu saya mencoba gugling sana-sini dulu. Ada nggak sih yang jual beginian online? *emakmales*. Sebab pengalaman menggunakan handphone sebelumnya, service centernya selain jauh, juga agak lama meresponnya. Tapi apa daya, saya hanya nemu ada yang jual di tokped itupun stocknya habis. Selain itu yang jual hanya OS level internasional a.k.a semacam ebay dkk, di mana pengirimannya pasti makan waktu dan paymentnya pakai paypal. Akhirnya keyakinan menghubungi service center LG semakin mantap setelah komen saya di postingan instagram LG dibalas oleh salah seorang pengguna lain menyatakan kalau di service center LG menyediakan replacement stylus.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah membuka web LG Indonesia lalu menghubungi contact centernya. Dari situ, saya mendapat penjelasan kalau untuk replacement stylus bisa saya dapatkan langsung di service center LG terdekat, di mana berdasarkan lokasi kantor yang ada di Jaksel dan rumah di Tangsel yang memungkinkan adalah ke service center yang ada di Panglima Polim (Jaksel) atau Graha Raya (Tangsel). Yang terakhir ini relatif lebih dekat dari rumah :D. Setelah mencoba menghubungi keduanya, yang dapat tersambung adalah yang ada di Tangsel. Langsung saja menanyakan yang saya butuhkan, lalu oleh masnya dijawab kalau barangnya tidak ready stock alias harus pesan sekitar 4-5 hari kerja. Singkatnya, saya deal untuk memesan dan diminta menghubungi kembali sebelum saya mengambil barangnya.

Lima hari berikutnya yang saat itu jatuh pada Sabtu, saya menelepon kembali. Kali ini dijawab kalau stylus sudah bisa diambil. Cuma karena Sabtu, service center LG hanya buka setengah hari sampai dengan jam 12 siang. Dan ternyata sampai sana ramai sekali. Sebab  tak cuma HP yang bisa diservice di situ, semua produk LG ternyata 1 tempat service center. Ada yang lagi mbenerin TV, remote, AC dan sebagainya dan sebagainya. Saya datang lalu menyampaikan keperluannya apa, dan diminta menunggu sejenak. Tak berapa lama turun seorang petugas membawakan barang yang saya pesan lengkap dengan invoicenya, tinggal bayar, selesai. Singkat, padat dan cepat. Alhamdulillah HPnya menjadi utuh kembali.

Nah, itulah sekelumit pengalaman berhubungan dengan service center LG. Barangkali yang di Tangsel membutuhkan, service center LG ada di sini:
Ruko Celesta Bintaro Jaya Blok K.18,
Pondok Jagung Timur, Kota Tangerang Selatan.
No teleponnya: 021-29446190

 

Ocean Dream Samudra Ancol

Seperti biasa, review yang terlambat. Ke sananya kapan, posting reviewnya kapan. Mohon dimaklumi, sebab postingan ini sebenarnya nangkring di draft sudah sejak lama. Hanya penyelesaiannya aja yang tertunda-tunda sehingga baru bisa diposting hari ini.

Pekan terakhir Desember kemarin kami mengajak anak-anak ke Ancol. Tanggal 25 Desember 2015, bertepatan dengan hari mudiknya mbak yang ngasuh anak-anak. Selepas mengantarkan mbak ke Stasiun Senen, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Ancol saja. Setelah menurunkan mbak di stasiun Senen sekitar jam 7 pagi, kami langsung bablas menuju Ancol. Tiba di Ancol sekitar 7.30. Masih pagi sekali.

Tujuan awal kami pagi itu sebenarnya ke Sea World. Begitu sampai di Sea World dan  melihat antrian pembelian tiket yang sangat membludak (padahal loketnya aja belum buka) maka kami memutuskan untuk mengunjungi seberangnya saja, Gelanggang Samudra yang sekarang dikenal dengan Ocean Dream Samudra Ancol. Sambil menunggu loketnya buka jam 9, kami duduk-duduk saja terlebih dahulu.

 

image

Menunggu Buka

 

Teruskan bacanya…

Bamberg-Jakarta

image

Postingan kali ini rada norak dikit gapapa ya? Haha.  Abisnya seneng banget dapet kiriman kartu pos dari teh dewi firyani. Kemarin pagi saat tiba di kubikel kesayangan, tiba-tiba di atas meja sudah ada selembar kartu pos kece dengan kolase foto pemandangan sebuah kota bertuliskan: Bamberg.

Berawal dari postingan teh dewi beberapa pekan lalu yang menuliskan akan mengirimkan kartu pos buat semua yang sudah menuliskan komentar di postingan beliau sebelumnya, lalu kirim alamat via email dan pekan kemarin tibalah si kartu pos yang sudah melewati jarak entah berapa juta kilometer :D. Jerman-Indonesia.

Awal tahu blognya teh dewi justru pada saat multiply masih aktif dan eksis. Beberapa kali mampir dan menjadi silent reader di postingan teh dewi. Setelah multiply dihapus, interaksi dengan teman-teman yang dulu sama-sama ngeblog di multiply kemudian berkurang. Sebagian besar bahkan baru tersambung lagi di fesbuk, twitter dan instagram. Nah, di sosmed terakhir itulah saya ketemu lagi dengan akunnya teh dewi dan kemudian follow blog beliau di wordpress. Baca blog teh dewi itu bawaannya bikin seneng deh. Kita dibawa jalan-jalan ke jerman, lihat pemandangan bagus-bagus (foto-fotonya memanjakan mata banget), dapet resep-resep makanan yang enak-enak, atau baca cerita beliau tentang anak-anak pun seru.

Makasih kartu posnya ya teh. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa merasakan juga hidup di negara dengan 4 musim.

image

Membuat Kremes yang Kriuk, Renyah dan Bersarang

Siapa sih yang ngga suka kremes? Pelengkap lauk nan kriuk kriuk ini kayaknya jadi favorit baik anak-anak maupun orang tua. Tak terkecuali di keluarga kami. Semua doyan :D. Menu dengan pelengkap kremes pun bervariasi, mulai dari ayam kremes, tahu kremes, tempe kremes, lele kremes dan seterusnya.

image

Nah, weekend kemarin untuk pertama kalinya saya mencoba mengeksekusi resep kremes yang saat ini sedang heitz banget di sebuah grup masak yang saya ikuti (sebut saja kelompok masak Shalahudin). Penasaran dengan kesuksesan teman-teman yang mencobanya, akhirnya dengan bahan seadanya saya mencoba membuat kremes ini. Resep yang dipakai merupakan resep asli kremes oleh bundanisa, berikut ini resepnya:

Bahan-bahan:
– tepung tapioka 6 sdm munjung (penuh)
– tepung beras 2 sdm munjung (penuh)
– kuning telur 1 butir
– air es 1 liter
– santan instan kecil 1 pack ( saya kemarin memakai yang sachet 65ml)

Bumbu:
– lada putih bubuk
– bawang putih pupuk
– ketumbar bubuk
– kunyit bubuk (kemarin karena ngga ada saya ngga pakai ini)
– garam
Kalau ditanya takaran bumbunya seberapa, maka saya akan bilang sesukanya aja hehe. Sesuai selera. Pakai jurus icip-icip dan feeling aja.

Cara membuat:
– Campurkan bahan dan bumbu menjadi satu. Adonan yang dihasilkan bisa dibilang encer. Agak-agak mirip adonan rempeyek.
-Siapkan wajan anti lengket, panaskan minyak goreng, yang banyak #eh.
– Setelah minyak panas, tuangkan adonan per satu sendok sayur dalam posisi tegak lurus agak jauh dari wajan. Kemarin awal-awal saya rada gagal sih, wkwk. Sebab pas nuang rada bergetar jadi agak geser posisi sendoknya. Tapi setelah gorengan ke 3 dan seterusnya alhamdulillah lancar.
– Goreng sampai kecoklatan merata. Kalau di resepnya disarankan saat udah mau matang dilipat sehingga memudahkan saat diambil. Tapi kalau saya kemarin enggak, soalnya pede banget tujuannya buat nyetock kremes dan akan dimasukkan toples jadi pada akhirnya akan diremuk juga. Haha.

Hasilnya ternyata beneran kriuk, bersarang dan renyah banget. Nah, setelah nyoba kemarin menurut saya tantangan bikin kremes ini adalah pada tahap menggorengnya hehe. Kudu sabar karena satu demi satu sendok sayur. Jangan lupa hati-hati pada saat menuang adonan ke minyak panas. Kalau ngga tenang, bisa nyiprat ke mana-mana.

image

Oiya resep di atas adalah resep tanpa ayam ya. Kalau pas bareng masak ayam dan ada sisa bumbu ungkep ayam, bisa dicampurkan di adonan supaya rasa kremesnya lebih sedap dan gurih.

Trus apa kata anak-anak? Cuma satu kata: enaaak.  Dan itu sudah cukup membuat emaknya ini senyum-senyum.