Ketika DB Menyapa

Pekan lalu merupakan pekan yang cukup ‘mengagetkan’ untuk keluarga kami. Iya kaget. Untuk pertama kalinya, salah satu anggota keluarga kami ada yang kenalan dengan DB alias demam berdarah yang belakangan ini memang sedang mewabah di mana-mana.

Hari Kamis pekan sebelumnya, ayahnya anak-anak mengeluh pusing dan demam. Hari itu di kantor hanya tiduran, dan ketika sorenya pulang kantor ternyata demamnya masih ada. Hari Jum’atnya izin tidak masuk kantor, dan kondisi badan masih sama. Demam yang betah (tercatat suhunya sampai 39 derajat Celcius) namun telapak tangan dan kakinya super dingin, mengeluh pusing, namun tidak disertai dengan gejala flu lain seperti batuk atau pilek. Sebenarnya sudah deg-degan dan curiga arahnya ke gejala DB, namun karena nafsu makan masih sangat oke, tidak ada nyeri sendi atau pegal apapun, kecurigaan itu sedikit terpupuskan.

Sabtu paginya, diantar tetangga depan rumah akhirnya si ayah memutuskan periksa ke UGD RS yang akhirnya berujung di poli umum. Dokter mengatakan tak perlu cek darah dulu, tunggu sampai Senin kalau masih demam baru cek darah. Dibekalilah si pasien pulang membawa obat berupa parasetamol, antibiotik, dan obat anti alergi yang akhirnya tidak disentuh sama sekali. Hari Ahad demamnya sudah turun, si ayah bilang sudah lumayan segar. Tapi keringat dingin mengucur dengan deras. Saya mbatin lagi, apa jangan-jangan DB ya?

Senin pekan lalu, karena merasa baikan si Ayah pun akhirnya ke kantor. Saya sebenarnya merasa si Ayah masih pucat, tapi karena ybs merasa enakan, yowes monggo.  Nah, hari itu saya yang gantian izin karena Rahma demam batuk pilek sejak hari Ahad sore. Selasa pagi, Rahma masih demam tinggi. Saya memutuskan mengambil jatah cuti tahunan yang sangat berharga itu selama 3 hari kerja. Berhubung agak trauma dengan bronko pneumonia dan kemarin batuk Rahma terdengar cukup mengiris hati *halah*, wis saya pun memboyongnya periksa ke DSA. Nah, kebetulan praktik DSA ini satu RS dengan tempat si ayah periksa sebelumnya. Karena saat si ayah periksa itu sudah diberi pengantar untuk cek ke lab, sekalian saja saya usulkan untuk cek darah walau suhu tubuhnya tak lagi demam. Sekali lagi, di mata istrinya ini wajahnya masih pucat :D.

Teruskan bacanya…