Weekend Project: Kids Corner

Belakangan ini hujan sudah semakin sering menyambangi Tangerang. Hampir tiap hari malah. Terkadang pagi terang benderang, begitu mendekati tengah hari langsung mendung dan turunlah hujan. Atau sebaliknya.

Alhamdulillah cuaca jadi lebih adem. Tak sepanas bulan-bulan sebelumnya. Anak-anak tentu senang. Namun salah satu imbasnya mereka jadi lebih jarang bermain di luar ruangan. Biasanya setiap bada ashar mereka bermain di luar rumah, sekedar bersepeda atau berlari kesana kemari.

Akhir-akhir ini pun kalau weekend kami jadi jarang bermain ke taman. Malah lebih sering main di playground. Pun si adik lagi seneng-senengnya main perosotan, jadilah cocok dan seneng banget main di playground.

Nah, berhubung kakaknya juga sedang libur sekolah, setiap hari anak-anak bermain berdua di rumah. Kami berpikir bagaimana ya bikin anak-anak betah, terlebih dalam cuaca begini. Lalu tercetuslah suatu ide untuk membuat kids corner, ya sebutan kerennya begitulah pokoknya.

wp-1450610044334.jpeg

 

Ada satu kamar di rumah yang sementara disulap menjadi tempat main mereka. Karpet evamat yang sudah tidak lengkap -karena isiannya bolong-bolong entah kemana- digelar kembali. Lalu hariย  kemarin kami ke Asemka.

Yeay, pasar Asemka. Niat banget ke Asemka dari Bintaro. Haha. Dari ujung ke ujung. Begitu sampai lokasi anak-anak langsung berbinar-binar meihat mainan di mana-mana. Dan setelah keliling di beberapa penjual, dibelilah tenda-tendaan yang ada terowongannya yang ukurannya relatif besar supaya si kakak bisa ikut main. Juga membeli beberapa wallpaper lucu untuk menghias dinding kamarnya. Dan sesorean kemarin sepulang dari Asemka, dieksekusilah ide tadi. Foto di atas itulah hasilnya.

Bagaimana, lumayan kan? Semoga anak-anak jadi semakin betah bermain di dalam ruangan. Selain menjadi tempat main, semoga dengan adanya pojok untuk anak ini bisa mengurangi berantakannya mainan bocah dimana-mana. Biar jadi satu di sana saja sehingga beberesnya nanti juga lebih mudah *emakmales* ๐Ÿ˜€

Khonsa: Menjelang Masuk SD

Pas Foto Khonsa

Pas Foto Khonsa

Tahun 2015 ini, insya Alloh si sulung akan masuk SD. Waaaaa, iya SD *cubit pipi sendiri*. Kalau kata mas yang satu ini, time flies. Benar-benar nggak terasa. Rasanya belum lama saya melahirkan Khonsa, menggendongnya ke mana-mana. Ternyata tahun ini, di usianya yang akan genap 6 tahun di bulan April nanti insya Alloh Khonsa akan masuk SD.

Sesuai dengan rencana kami saat dulu memilih sekolah playgroupnya, untuk SD insya Alloh tetap di tempat yang sama, di sekolah yang sama. Jadi PG, TK A, TK B dan SD berada di satu sekolah yang sama, yaitu di PPIA Baitul Maal. Banyak yang tanya, kenapa? Ya nggak kenapa-kenapa sih *halah*. Ada beberapa alasan kenapa dulu kami memutuskan memasukkan Khonsa untuk sekolah di situ. Yang pertama karena kami memang memilih sekolah Islam. Ingin meletakkan pondasi yang kuat sejak dini, walaupun sebenarnya tetap orangtua-lah yang harus berperan utama dalam hal ini. Kedua, jaraknya relatif dekat dengan tempat tinggal kami. Yang ketiga, nggak ada calistung di usia PG-TK, jadi benar-benar bermain (sambil belajar tentunya) :D.

Karena sudah menentukan pilihan sejak awal, tentunya kami tinggal mengikuti jadwal penerimaan siswa SD dari sekolah. Bulan Desember 2014 kemarin ada pemberitahuan kalau pendaftaran siswa SD sudah dimulai. Pada tanggal yang ditentukan, saya dan si Ayah ke sekolah untuk mengambil formulir pendaftaran calon siswa SD yang berlembar-lembar dan isinya ternyata sangat detail.ย  Formulir dikembalikan setelah terisi dengan lengkap beserta kelengkapan persyaratan (akte, KK, foto dll) plus membayar biaya pendaftaran siswa (yang bisa dipilih tunai atau dicicil 3x). Pengembalian formulir ini diberi batas waktu, kalau terlewat ya sudah berarti tidak bisa diterima. Oiya, semua yang mendaftar diterima sampai kuota terpenuhi, dan tidak ada tes masuknya.
Teruskan bacanya…

Akhirnya Kakak ke Dokter Gigi

Pekan kemarin, kami membawa si Kakak (ceritanya sekarang membahasakan Khonsa yang lebih suka dipanggil Kak dibanding Mbak :D) ke dokter gigi. Bukan asal dokter gigi sih, sengaja mencari dokter gigi khusus anak. Tentu ini kunjungan kami yang pertama. Sebenarnya sudah lama ingin membawa si Kakak ke dokter gigi, hanya selama ini selalu tarik ulur belum mau. Maka, ketika awal pekan kemarin Kakak mengeluh giginya sakit, saat itu juga saya menawarkannya ke dokter gigi dan ajaib, si Kakak langsung mau ;).

Awalnya, saya googling mengenai keluhan Kakak. Saat merasa giginya sakit itu, saya melihat ada bengkak kecil di gusinya bagian atas. Belakangan saya baru tahu itu abses, salah satu akibat dari adanya gigi bolong. FYI, ternyata kasus masalah gigi anak-anak seusia si Kakak ini sama. Hasil obrolan dengan beberapa orangtua teman-teman sekolah Kakak ternyata rata-rata anak-anak mengalami masalah gigi gigis (keropos) dan gigi bolong. Dari hasil googling juga akhirnya ketemu klinik gigi anak terdekat dari sini, yakni Canina Dental Care di Bintaro sektor 1.ย  Rata-rata menyatakan klinik ini oke banget menangani masalah gigi anak.

Di hari yang sudah dijanjikan (ke Canina harus appointment by phone dulu), Ayah sengaja izin sebentar dari kantor untuk bersama-sama mengantar si Kakak. Sampai klinik, wah tempatnya anak-anak banget. Banyak boneka, dekorasinya penuh nuansa anak-anak, warna warni dan TV yang disetel adalah channel kartun anak-anak :D. Lalu bertemu dengan dokter Putu, yang menurut hasil googling juga recomended dan telaten.ย  Pemeriksaan awal, gigi Kakak diperiksa keseluruhan, mana-mana yang perlu dirawat. Oya, karena Kakak belum bisa dan belum berani duduk sendiri, Ayah yang kebagian tugas memangkunya di bangku periksa khusus.

Teruskan bacanya….

Hari Pertama Khonsa Masuk Sekolah

Seperti cerita di postingan sebelumnya, pada akhirnya hari itu tiba. Hari ini adalah hari pertama Khonsa masuk sekolah. Beruntung sekali hari ini tak ada jadwal kuliah, sehingga saya bisa menemaninya masuk sekolah untuk pertama kalinya.

Di luar perkiraan, begitu sampai di sekolah Khonsa langsung mau ditinggal, berbaur dengan teman-teman dan para guru. Saya hanya menungguinya dari luar gerbang sekolah, sekedar memastikan dari kejauhan. Dan ternyata, semua berjalan dengan lancar. Sempat mendekat dan mengintip 2 kali, pertama saat ibu guru sedang mengajari mereka berdo’a dan sholat, kedua saat mereka bermain mengenal bentuk dan warna.

Setengah 11 saat jam pulang, wajah riang Khonsa menghampiri sambil berbisik, “buk, pulang yuk, lapar mau maem” :D. Sepanjang jalan pulang bahkan hingga sore ini, tak henti Khonsa antusias menceritakan tentang apa-apa yang dilakukannya di sekolah. Good job, girl :*. Semoga seterusnya betah ya Nak.

 

Memilih Sekolah untuk Khonsa

Bulan April tahun ini insya Allah khonsa genap berusia 3th. Tahun lalu saya dan ayah sepakat untuk mencarikan Khonsa sekolah pada tahun ini. Bukan untuk kepentingan belajar secara akademis tentu saja, namun lebih kepada aspek sosialisasi, lantaran di lingkungan tempat tinggal kami sekarang anak yang seusianya tidak banyak.

Menjelang akhir 2011 kemarin saya mulai mencari info. Beberapa kawan mengatakan di sekolah-sekolah tertentu pendaftaran siswa baru akan dimulai di bulan Desember. Saya pun menelepon sekolah yang kami taksir sejak awal. Dan benar ternyata, pendaftaran ternyata dimulai desember meskipun tahun ajaran baru baru akan dimulai bulan Juli 2012.

Singkatnya, kami mendaftarkannya ke kelas Play Group PPIA Baitul Maal. Pertimbangannya, selain basicnya Islam, sekolah tersebut relatif dekat dan terjangkau biayanya. Pembayaran di awal termasuk untuk uang masuk hingga nanti ke jenjang TK. Jaraknya cukup dekat dengan domisili kami saat ini, paling tidak sementara bisa saya antar jemput selama kuliah :D.

Akhir Januari kemarin, pihak sekolah menghubungi kami untuk mengajak calon siswa ke sekolah dengan tujuan observasi. Walaupun di form pendaftaran isiannya sudah sangat lengkap (perkembangan sejak bayi pun ditanyakan hehe), namun pihak sekolah perlu bertemu langsung dengan si anak untuk berinteraksi langsung. Benar saja, kemarin anak-anak dikelompokkan ke dalam kelas, diajak bermain oleh guru-guru, ditanya nama, ditanya gambar-gambar, diajak lempar bola, meronce, loncat-loncat, bercerita dsb. Menurut ibu guru, observasi tersebut nantinya akan berguna untuk mengukur kemampuan motorik si anak dan membantu para guru mengenal anak-anak yang akan diampu.

Akhir pekan berikutnya giliran kami para orangtua yang diinterview. Ditanya secara detail mengenai perkembangan si kecil. Kebiasaan-kebiasaannya di rumah. Kecenderungan-kecenderungannya. Lengkap pokoknya, dari A sampai Z. Dan ibu guru menjelaskan beberapa aturan main sekolah. Aturan di sini maksudnya bagaimana pihak sekolah akan mendidik anak nantinya. Salah satunya misalnya, dilarang memakai diapers saat ke sekolah. Walaupun anak belum lulus toilet training, pihak sekolah tetap melarang pemakaian diaper. Ibu guru berpesan untuk membekali anak dengan baju ganti. Komitmen sekolah salah satunya melatih kemandirian si anak. Dan penjelasan-penjelasan lain membuat kami semakin mantap memilih sekolah ini.

Begitulah. Kemarin sekalian mengukur seragam untuk dipakai juli nanti. Nantinya seminggu masuk 3x saja, durasi pertemuan 2 jam tiap sekali ketemu. Lalu bagaimana reaksi Khonsa? Pada saat observasi dia memang masih terlihat malu dan sungkan. Belum begitu full menyatu dengan bu guru dan teman-temannya. Namun ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูู„ูู„ู‘ู‡ู dia cukup antusias, sering bercerita kepada kami tentang calon sekolahnya. Semoga nantinya cocok dan nyaman.

Satu hal yg saya sadari, mendadak saya benar-benar merasa menjadi orangtua pada saat proses mencari sekolah ini :p.

After Weaning

Sudah 2 bulan semenjak Khonsa berpisah secara sukarela dengan si ASI :). Awalnya sempat khawatir mengenai beberapa hal, terutama dengan jam tidur malamnya. Beberapa kali teman-teman bercerita tentang anak-anaknya yang selepas ASI jadi susah tidur malam, atau menjadi lebih rewel dari biasanya. Itu yang menjadikan kami agak deg-degan di awal, namun alhamdulillah kekhawatiran tersebut tidak terbukti.

Jam tidur malamnya tetap teratur seperti saat masih mengandalkan ASI sebagai pengantar tidur. Jam 8 malam pasti sudah minta masuk kamar, dan yang membuat senang adalah selalu Khonsa yang minta sendiri.ย  Aktivitas sebelum tidur yang rutin masih tetap sama, cuci tangan, cuci kaki, sikat gigi dan juga ganti baju. Oiya, kalau dulu sebelum tidur harus menyusu, maka sekarang Khonsa minta minum susu (susu UHT) atau mimum air putih jika sudah sikat gigi. Setelah itu biasanya kami masuk kamar, mematikan lampu, lalu tidur.

Yang agak unik, pengantar tidurnya sekarang alhamdulillah lebih bervariasi. Sejak dulu, Khonsa memang menyukai “ngobrol-ngobrol” sebelum tidur. Bedanya, sekarang saya bisa lebih meng-explore-nya untuk bercerita lebih banyak dan membiarkan dia bercerita dengan imajinasinya.ย  Apa-apa yang dilakukan sehari ini, cerita tentang mainannya, tentang kakek nenek atau keinginannya untuk bersekolah “kalau udah tinggi” LOL (bahasanya untuk jika sudah saatnya nanti). Teruskan bacanya…

Self Weaning, Berakhir dengan Cinta

Alhamdulillah. Menjelang 29 bulan kemarin, akhirnya Khonsa memutuskan untuk mengakhiri kebersamaan kami bersama ASI hehe. Beberapa hari menjelang 29 bulan, kata-kata itu akhirnya keluar dari mulut mungilnya. “Sudah buk,ย  nenen buat bayi, aku udah gede.” Surprise, sekaligus senang ketika Self Weaning itu benar-benar terjadi. Self Weaning yang penuh cinta. Karena rasanya sangat tepat, saat ini kami sudah sama-sama legowo, sama-sama merasa ikhlas ketika harus mengakhirinya. Penyapihan yang luar biasa menurut saya, tanpa tangis dan tanpa penderitaan :D.

Proud of you girl :-*

Teruskan bacanya…