Yuk Mewarnai

Biar kekinian, akhirnya nyobain ikut mewarnai kehidupan. Pas nyariin buku untuk si sulung, kebetulan ketemu buku mewarnai untuk usia dewasa yang katanya bisa digunakan untuk stress healing a.k.a relaksasi. Sebenarnya di internet juga banyak contoh pattern dan bisa didonlod, tapi rasanya kurang afdol kalau ngga nenteng-nenteng bukunya kemana-mana :D.

Jadilah dibeli buku mewarnainya. Dari beberapa pola yang ada, saya memilih yang pola dasarnya bunga *cewekbanget*.

wp-1449234512808.jpeg

Trus gimana, beneran stress healing ga? Hahaha.. Ya gimana nggak ngobatin stress, wong yang diwarnai kecil-kecil banget begitu. Ini tentu menguji iman dan takwa kesabaran dan ketelatenan. Kalau untuk kombinasi warna kan suka-suka, jadi terserah aja mau memadukan warna apa dengan apa. Mungkin dengan kebebasan bermain warna ini yang sebenarnya juga membuat pikiran menjadi lebih fresh :D, suka-suka gue yang penting happy gitu kali ya.

image

Jadi sekarang di rumah yang mewarnai nggak cuma anak-anak, emaknya juga. Pensil warna aja kadang-kadang rebutan. Ternyata mewarnai begini bisa jadi salah satu sarana me time emaknya hehe.

Random Tengah Malam

PUPNS 2015Random sekali.

Online tengah malam begini karena harus menyelesaikan registrasi pupns yang deadline terakhir kirimnya adalah hari ini (sambil lihat kalender)  . Ketahuan ya suka mepet-mepet. Biar seru *alesan*.

Kok ngga dikerjain kemarin-kemarin? Jawabnya: Lagi (sok) Sibuk.
Kok nggak dikerjain siang-siang aja pas di kantor? Jawabnya: Lagi (sok) Sibuk (juga).
Tabokable banget alasannya :D, tapi sejak pindah ke bagian yang sekarang ini, kerjaan rasanya nggak ada habisnya *curcol*.

Ngomong-ngomong, gara-gara pupns ini jadi ngobrak abrik arsip data pribadi. Niatnya cuma ngecek kebenaran data ijazah sd-smp-sma, lah ujungnya mewek waktu lihat buku raport sd-smp-sma terus ada tanda tangan bapak di sana :-(. Abis itu senyum-senyum lihat nilai raport, nilai ebtanas, nilai ijazah plus sertifikat-sertifikat lomba di masa-masa sekolah.

Gara-gara pupns ini juga, bongkar-bongkar hasil karya waktu lulus d3 sama d4 gara-gara harus menuliskan judul tugas akhir pada saat mau lulus. Wajar dong kalau judul karya tulis semasa d3 yang ternyata sudah 8 tahun lalu itu lupa, tapi ya masa iya judul karya tulis d4 yang baru 2 tahun lalu juga sudah lupa persisnya apa *tepok jidat*.

Dan sekarang setelah isian lengkap dan sudah terkirim, mata belum merem juga. Malam-malam begini blogwalking dan malah browsing sana-sini. Padahal besok Senin. Padahal besok ke kantor.

Random yes. Mari tidur saja kalau begitu.

 

 

Akhirnya Selesai : Skripsi Menguras Hati

*Tiup-tiup debu*

Hehe. Lama sekali tak posting di sini. Sebenarnya beberapa kali sempat membuat draft tulisan. Tapi entah kenapa tak kunjung selesai. Memang benar ternyata, ketika ingin menuliskan sesuatu seharusnya langsung diselesaikan saat itu juga. Karena apa? Ya karena saat itulah idenya muncul. Begitu cuma nangkring di draft, di kesempatan berikutnya pas buka draft itu akhirnya ya nyengir doang, ini kemarin mau nulis apa ya? *tepokjidat*

Bulan ini akhirnya satu kewajiban lagi alhamdulillah sudah tertunaikan. Lega rasanya setelah skripsi yang menguras hati itu selesai sudah :D. Setelah sempat menunda 1 semester karena melahirkan, akhirnya semuanya selesai sesuai dengan yang direncanakan. Walau tertinggal dari teman-teman seangkatan yang sekarang sudah resmi melepas status pegawai tugas belajar dan kembali ke kantor, Insya Alloh bulan depan bisa ikut yudisium bersama angkatan berikutnya dan menyusul teman-teman seangkatan.

Jadi, bagaimana kabar si skripsi yang menguras hati itu? :D. Apapun yang terjadi, saya bersyukur semuanya sudah selesai. Sudah selesai dikerjakan, sudah dipertahankan di depan dosen-dosen penguji, dan sekarang sudah direvisi dan dikumpulkan ke kampus. Bersyukur semuanya sudah terlewati. Bersyukur karena merasakan sendiri bagaimana ‘seru’ dan asyiknya mengerjakan sesuatu bernama skripsi. Bersyukur merasakan tantangan bernama bolak-balik mencari data penelitian di instansi lain yang belum pernah terbayangkan sebelumnya,  lembur-lembur mengolah data hingga paginya mata berasa ‘mbeyuyut’ seharian, bolak-balik revisi dan dikritik oleh dosen pembimbing yang  sangat teliti dan baik hati, bersyukur pernah merasakan diuji oleh dosen-dosen penguji yang memang master di bidang skripsi yang saya ambil (walaupun nilai sidangnya entah berapa, haha :D) dan bersyukur bisa melewati itu semua dengan status sebagai emak tentunya ;).

Bagi banyak orang mungkin pencapaian seperti ini tidak istimewa. Tapi buat saya pribadi, ini sesuatu yang istimewa.

Skripsi

Semester 9

Seminggu ini saya sedang menjalani Ujian Akhir Semester 9.  Antara senang dan sedih tentu saja, karena ini berarti perkuliahan tinggal satu semester lagi,  kemudian semester berikutnya menyusun skripsi .  Well, sama seperti kemarin semester 7 dan semester 8, di semester 9 ini masih bertemu mata kuliah yang seru-seru. Tiga mata kuliah audit, satu mata kuliah akuntansi, satu manajemen dan sisanya seminar akuntansi pemerintah.

Semester ini besyukur bertemu mata kuliah seru, dosen seru-seru dan tentu saja, teman-teman yang seru. Alhamdulillah.

Dan Senin besok, satu mata kuliah lagi sebelum libur panjang selama 1 bulan. Horeee.

Karena Jadi Ibu itu Harus Kreatif

Gambar dari Google.

Salah satu hal yang saya pelajari dari menjadi seorang Ibu, selain tentang ilmu per-momong-an dan parenting, menjadi Ibu itu juga merupakan sebuah seni. Seni yang memerlukan kreativitas. Iya, kreativitas.  Ketika sedang mendongeng misalnya, Ibu perlu memiliki kreativitas improvisasi bagaimana menghadirkan dongeng tersebut secara nyata di depan si anak. Ketika si anak ngambek atau tantrum, si Ibu harus bisa kreatif mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang lain supaya tantrumnya berhenti. Dan satu hal lagi, soal makan dan makanan si kecil pun, sebagai Ibu harus kreatif supaya anak tidak bosan dan mau memakan segala jenis makanan.

Berbicara yang terakhir, saya pun mengakui bahwa semakin besar usia anak, maka kreativitas Ibu di dapur ternyata sangat menentukan.  Dulu, waktu anak masih awal MPASI mungkin soal masak-memasak ini sedikit lebih mudah. Tinggal memasak bubur atau kukus ini itu, rebus ini itu, saring ini itu, jadi. Berbeda ketika fase MPASI anak beralih menjadi table food alias sudah makan makanan yang sama dengan orang serumah, Ibu harus lebih pandai dan kreatif membuat variasi yang lebih menarik si anak.

Hingga saat ini di usianya 2 tahun 8 bulan, saya bersyukur karena Khonsa hampir tidak pernah memiliki kendala berarti dalam proses makan ini. Artinya kecuali kondisinya sedang tidak fit untuk kunyah mengunyah seperti saat hendak tumbuh gigi, sariawan, flu (sakit tenggorokan), alhamdulillah makan masih lancar jaya. Tetapi ternyata lancar jaya tidak menjamin si anak mau memakan segala jenis macam makanan. Khonsa walaupun bukan tipe pemilih, seringkali tidak mau mencicipi jenis makanan atau menu baru.  Sayuran, biasanya juga harus diakali supaya dia mau menghabiskannya misalnya dengan memotongnya dalam bentuk lucu dan semacamnya. Atau mengolah jenis makanan baru dalam bentuk yang disukainya. Beberapa saat lalu misalnya, saya mencoba mengisi kulit pangsit dengan adonan perkedel tahu supaya Khonsa lebih suka tahu. Hasilnya? Waw, ajib. Sampai dengan hari ini, tiba-tiba tahu menjadi makanan favoritnya :P.

Teruskan bacanya…

Kuliah Ala The King’s Speech

Pertengahan minggu ini ada salah satu perkuliahan yang unik. Jika dalam perkuliahan biasanya kami belajar dari buku-buku literatur tebal yang bisa dipakai nimpuk maling, maka kali ini dosen “memaksa” kami untuk kuliah dari film. Dan film yang terpilih untuk mewakili kuliah kepemimpinan di sesi terakhir sebelum mid test pekan depan ini adalah The King’s Speech. 😀

The King’s Speech sendiri merupakan film yang konon katanya memang diangkat dari kisah nyata raja George VI, ayahnya Ratu Elizabeth si ratu Inggris. Pangeran Albert (Colin Firth) , yang di keluarganya dipanggil Bertie, merupakan anak Raja George V yang mengalami masalah kegagapan saat berbicara/pidato di depan umum. Sebagai seorang pemimpin, sudah tentu seseorang harus mampu berbicara di depan umum dengan baik, lancar, dan tertata. Bagaimana cara dia mengatakan sesuatu tentu akan mempengaruhi pendengarnya, dalam hal ini si rakyat.

Nah, si Bertie ini memiliki masalah kegagapan tadi. Kemudian istrinya (Helena Bonham Carter) mencarikan terapis untuk mengatasi masalah tersebut, namun selalu berakhir dengan kegagalan. Sampai suatu hari dia meminta tolong Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang ahli terapi bicara yang katanya bisa menyembuhkan permasalahan kegagapan. Kalau pendapat saya sih sebenarnya sentra konflik ini terjadi pada saat si Bertie ini belajar mengatasi kegugupannya atas bimbingan Lionel. Lionel ini memiliki metode yang unik dalam membantu Bertie mengatasi kegagapannya. Lionel memposisikan dirinya sebagai teman, tak peduli bahwa pada kenyataannya Bertie adalah Duke of York yang suatu saat nanti akan mewarisi tahta raja George V.


Teruskan bacanya…

Balada Simbok Mellow

Simbok baru pulang kuliah. Baru sampai, lantas meletakkan tas dan buku literatur kuliahnya di lantai. Si anak mendekat, iseng memainkan buku si simbok.

Tak lama kemudian…

Terdengar bunyi, “kreeeeek”.

Salah satu halaman buku literatur kuliah simbok tersebut nyari sobek seluruhnya. Simbok speechless. Secara buku literatur tersebut masih baru dan harganya cukup mahal.

Tiba-tiba si anak mendekat.
Meraih tangan kanan si simbok yang masih speechless, salim, cium tangan. Lalu memeluk simbok. Sambil bilang, “Simbok maaf”. Menahan tangis.

Simbok semakin mellow. Perlahan simbok tersenyum. Tak jadi soal buku simbok robek satu atau dua halaman. Atau bahkan jika si anak merobek semuanya. Simbok tahu satu hal, “Alhamdulillah, anakku sudah besar,” batinnya.

#baladaSimbokmellow

You can learn many things from children.  How much patience you have, for instance.  ~Franklin P. Jones