Catatan Mudik Idul Fitri 1433H

Agak berbeda dengan lebaran-lebaran tahun sebelumnya, tahun ini kami memilih hari H idul fitri sebagai hari keberangkatan mudik. Pertimbangannya selain cuti si Ayah hanya H+ saja yang berarti sebelum hari H agak mepet, dengan mudik di hari H kami berharap jalanan sudah tidak begitu macet. Awalnya sempat galau mengingat usia kehamilan yang masih awal, namun akhirnya bismillah, berangkat mudik setelah berbekal izin dari ibu dokter kandungan yang sempat kami temui pada kontrol terakhir sebelum mudik.

Tangerang – Cilacap

Hari Ahad, 19 Agustus sekitar pukul 03 dinihari. Setelah malam sebelumnya tas-tas dan bekal mudik dimasukkan ke mobil, dinihari itu kami memutuskan berangkat. Sholat Ied insya Alloh nanti dilaksanakan di jalan, dengan asumsi jika lancar mudah-mudahan bisa sholat di seputaran Bandung. Tahun ini kami memilih jalur selatan sebagai rute mudik, mengingat reportase di TV, media cetak, maupun twitter dan semacamnya masih melaporkan kepadatan pantura sejak H-3 lebaran.

Setengah 4 kami bertiga berangkat dari Tangerang. Bismillah. Suasana dinihari masih sepi. Masuk tol apalagi, bisa agak ngebut untuk menghemat waktu. Aroma mudik baru terasa di rest area km 57 Tol Jakarta-Cikampek. Kami berhenti untuk sholat subuh dan membeli makanan. Rest areanya lumayan ramai, dan bertemu dengan rombongan pemudik lain yang nampaknya berpikiran sama dengan kami untuk berangkat mudik di hari H. Bada subuh kami melanjutkan perjalanan berikutnya, menuju Tol Cipularang.

Sekitar 06.30 pagi kami keluar tol Cieunyi dan toeww. Jalur ke kanan arah Nagreg ditutup. Mau tidak mau harus lurus dan berarti nanti lewat Sumedang (tembus Cirebon atau tembus Tasik via Wado). Sepuluh menit dari exit Tol Cileunyi kami berhenti untuk sholat Ied di Masjid Darul Ma’arif kompleks IPDN Jatinangor. Sekitar pukul 07.15 perjalanan dilanjutkan, dan kami memutuskan mencoba jalur baru menuju Tasik via Wado (Sumedang).

Teruskan bacanya…

Tahun Keempat

19 Maret 2008 – 19 Maret 2012.

Postingan yang terlambat :D. Tanggal 19 Maret kemarin,  ahamdulillah genap melewati 4 tahun bersama-sama pak suami. Banyak hal terjadi tentunya, tak pernah cukup kata atau tulisan untuk menceritakannya. Do’a yang selalu terpanjat semoga kami senantiasa beriringan dan sejalan dalam membangun keluarga ini menuju jannahNya. Amiin.

(kemarin pesan cupcakes, dengan tema ayah-ibu-khonsa, paling depan adalah hobi kami masing-masing, paling tengah seharusnya ada lilin angka 4 tertancap hihi, sayang tak sempat ikut terfoto lilinnya).

 

(dan) Manusia Merencanakan, Allah Menentukan

Kemarin siang berchating ria dengan teman semasa kuliah d3 dulu. Ngobrol ngalor ngidul, dari A sampai Z kembali ke A lagi, haha hihi melepas kangen mencoba memotong jarak ratusan kilometer yang terbentang di antara kami. Lalu muncullah topik itu, yang membuat obrolan kami terasa jadi lebih serius dan bermakna *halah*. Buktinya tiba-tiba malam ini saya teringat kembali dengan perbincangan kemarin.

Awalnya kami membicarakan tentang penghujung tahun. Lalu tentang resolusi tahunan yang -mungkin- pernah kami buat di awal tahun. Lalu pertanyaan yang mengikutinya, “bagaimana resolusi yang kamu buat di tahun ini? berapa persen target yang tercapai?” Hyak desh! Saya yakin kami sama-sama sedang berhitung dan mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi selama setahun ini. Lalu chating itupun berjeda beberapa saat.

Flashback.
Saya memulai 2011 dengan pindah domisili ke Tangerang dan menjalani rutinitas menjadi mamasiswa. Kuliah, wara wiri rumah-kampus, sambil momong tentunya dan tetap berusaha menjadi istri yang baik idaman suami, sambil juga meneruskan berjualan online. Ada  rencana-rencana besar yang saya dan pak suami diskusikan hampir setahun lalu. Ada target-target yang hendak dicapai pada tahun ini. Tidak begitu banyak memang, namun rencana-rencana itu cukup membuat semangat dan antusiasme kami menjadi lebih hidup.

Lalu, apa tercapai? Sebagian iya. Tapi sebagian lainnya, ternyata belum. Ternyata rencana-rencana itu belum bisa direalisasikan di tahun ini. Tidak, tidak akan saya katakan kenapa atau mencari penyebabnya.  Hanya yang ingin saya catat dan ingat, ada banyak hal-hal lain yang terjadi di luar rencana-rencana yang kami buat.  Hal-hal lain yang ternyata membuat rencana-rencana kami dulu terasa lebih lengkap. Iya, benar. Lebih lengkap. Sedang memikirkan, bahwa sejauh ini skenario Allah selalu yang terbaik. Benar pada awalnya, saat memainkan skenario tersebut saya pernah bertanya, ‘mengapa begini ya Allah?”. Ternyata saat ini, saya mendadak sok bijak paham mengapa Allah membuat skenario yang berbeda dengan rencana-rencana kami. Ada hal-hal positif lain yang berusaha Allah tunjukkan dengan skenarioNya.

Maka izinkan saya berucap, alhamdulillah.
Benar saat dikatakan manusia merencanakan, Allah menentukan.
Dan Allah memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan.
Dan selalu, skenario Allah  menjadi skenario terbaik.

-13.12.2011 01.07, menjelang dinihari-


Dan Ternyata (Harus) Bedrest

Masih kelanjutan postingan sebelumnya.

Pekan kemarin adalah pekan terakhir perkuliahan kami. Mulai Senin ini UAS hingga pekan depan, setelah itu libur 3 pekan sebelum mulai perkuliahan baru.

Berawal di hari Kamis. Hari itu kami dijadwalkan kuliah 4 kelas, 4 mata kuliah berbeda. Memang 3 pekan terakhir jadwal kuliah tidak begitu bersahabat, semua mengejar minimum pertemuan menjelang UAS. Tugas kuliah juga seperti salah satu syair lagu, sambung menyambung menjadi satu, :D. Setelah pekan sebelumnya menemui dokter kandungan dan semua dinyatakan oke, maka saya tenang beraktivitas seperti biasa. Tapi rupanya, hari itu sedikit istimewa.

Jam 11, merasa tubuh tidak terlalu fit, saya akhirnya izin 2 mata kuliah dan memilih beristirahat di rumah. Jumat pagi saat ke kamar mandi, saya baru sadar ada flek berwarna coklat muda. Namun hanya setitik dan sudah mengering. Jumat siang, ada perkuliahan seperti biasa, dan saya masih ke kampus.

Malamnya, badan memang tidak enak, dan kebetulan tenggorokan juga sakit, seperti akan flu. Sedikit pusing meriang, saya baru tertidur jam setengah 12 malam.  Sabtu pagi, alhamdulillah terbangun dengan kondisi lebih fit dan segar. Saya pun beraktivitas seperti biasa, mengembalikan buku, fotocopy, lalu mengambil selimut dan bedcover ke laundry langganan. Pagi itu kami berniat ke dr kandungan juga, menanyakan perihal flek malam sebelumnya, namun sesampai di klinik rupanya bu dokter tidak praktek karena ada urusan. Berpikir tidak apa-apa, kami tak mencari alternatif dokter pengganti. Teruskan bacanya…

Yang Kedua :)

November.

Setelah Oktober yang panjang dan melelahkan.
Kuliah penuh dan padat. Menjelang UAS Semester Genap yang akan dilaksanakan mulai pekan depan.

Pekan lalu, di dinihari yang hening. Saya tergugu.
Ketika sendirian memastikan bahwa apa yang saya lihat adalah benar.
Iya, dua garis.
Dua garis berwarna merah.

Lalu ingatan saya perlahan teringat pada doa-doa kami.
Saat kami diam-diam berdoa, jika nanti kami diamanahi untuk memiliki yang kedua setelah Khonsa, semoga pada waktu yang tepat.
Saat hak ASI Khonsa sudah terpenuhi.

Dan Alloh memang Maha Baik :).
Percayalah, Alloh senantiasa memberikan yang terbaik buat kita.

Bismillahirrokhmanirrokhim, semoga sehat2.

29 Oktober 2011, periksa pertama kali ke dr kandungan.
Alhamdulillah  🙂

Karena Pernikahan itu Sebuah Perjalanan

Sepagi ini saya chating dengan salah satu teman sekelas kuliah dan membicarakan topik yang sok berbobot tentang pernikahan.  Dimulai dengan sebuah percakapan darinya : “enak ya mbak kalau udah nikah dan punya anak, kalau pas libur kuliah begini bisa main-main sama si kecil. Pengen deh berkeluarga, punya istri trus punya anak, tapi masih takut dan ragu-ragu, jiwaku kan jiwa petualang, masih pengin main-main.” Dan mengalirlah sebuah percakapan yang agak berat. Tentang pernikahan, tentang berkeluarga, tentang komitmen, tentang anak, dan semuanya.

Saya memulai menanggapinya dengan sebuah ungkapan, ‘rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau’.  Ketika teman saya menyatakan rasa irinya melihat teman-teman yang berkeluarga, maka jujur saya mengatakan, terkadang saya juga iri melihat teman-teman sebaya yang masih single dan bisa main kesana kesini, bisa jalan dengan teman-teman lainnya. Bukan berarti ketika menikah tidak bisa lagi jalan-jalan atau keluar rumah, tetapi maksud saya adalah jalan dengan teman-teman, seperti saat saya masih berstatus single dulu.
Teruskan bacanya…

Pasien Asuransi, Dinomorduakan?

Sabtu dinihari, saya membawa Khonsa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) salah satu RS di kawasan Jakarta Timur. Sejak setengah 2 pagi Khonsa berkali-kali muntah, apalagi setiap habis diisi entah air atau ASI atau makanan lain.  Hingga kira-kira jam setengah 4, terhitung 6 kali Khonsa muntah hingga muntahannya hanya berupa cairan berwarna kuning pertanda lambungnya sudah kosong. Kami pun memutuskan untuk mengunjungi dokter saat itu juga, khawatir ada sesuatu karena Khonsa juga mulai terlihat lemas walaupun masih mau bermain.

Kira-kira setengah 4 lewat 10 menit kami sampai kesana. Membangunkan pak satpam yang masih terkantuk-kantuk, perawat yang sedang berjaga, dan tentu saja, dokter jaganya yang juga masih tertidur lelap. Seperti biasa, kami menggunakan fasilitas dari salah satu asuransi kesehatan syariah yang kami ikuti. Berhubung menggunakan asuransi maka proses registrasinya sedikit berbeda, banyak lembar-lembar yang harus diisi, sementara Khonsa terlihat lemas dan terkantuk-kantuk di gendongan saya. Teruskan bacanya…