Buku: Balita Bertanya, Anda Menjawab

Kalau ada yang bilang jadi orangtua itu ngga ada sekolahnya, iya bener banget. Sepanjang waktu adalah belajar. Berasa banget deh. Semakin besar usia anak, artinya semakin banyak yang orangtua harus pelajari untuk terus berusaha memberikan yang terbaik *belibet ngomongnya*. Intinya sih, jadi orangtua itu adalah proses belajar sepanjang waktu. Begitu.

Makanya sebagai orangtua boleh dong ya kalau kita ikut seminar atau menyimak artikel-artikel atau baca buku yang menambah khasanah pengetahuan dalam mendidik anak. Nah akhir Desember tahun lalu saya ngga sengaja nemu buku yang bagus buat dibaca. Kenapa ngga sengaja? Sebab buku ini saya beli di bapak penjual vcd yang keliling berjualan di kantor-kantor, atas rekomendasi beliau.

“Ini bagus lho mbak. Sudah punya belum?” tanya beliau.

Tanpa pikir panjang, langsung dibelilah bukunya. Kesan pertama, bukunya covernya lucu *eh salah fokus*. Hihi. Saya sih suka buku-buku parenting yang covernya imut-imut begini. Jadi lebih asik dan lebih menarik.

image

Sesuai judulnya, isinya tentang bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis balita.  Menjawab pertanyaan balita tentunya butuh pendekatan yang berbeda dengan menjawab pertanyaan orang dewasa. Menjelaskan ke anak itu, harus dengan bahasa yang mudah dimengerti dan mudah dipahami. Kadang-kadang saya mikir agak lama saat mereka menanyakan sesuatu. Mikir bagaimana ya membahasakan sesuai dengan usia mereka.

Nah, kembali ke buku Balita Bertanya, Anda Menjawab. Di covernya tertulis berisi 60 pertanyaan kritis yang sering ditanyakan balita serta solusi jawaban yang tepat. Tapi jujur saya nggak ngitung bener atau nggak ada 60, sebab banyak sekali isinya. Secara garis besar dibagi menjadi 7 sub bagian:
Balita dan Agama
Balita dan Alam Sekitar
Balita dan Tubuhnya
Balita dan Seks
Balita Memaknai Peraturan
Balita dan Orangtua
Celoteh Balita Lainnya

Nah, dari masing-masing sub bagian itu berisi pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan anak-anak. Misal: Tuhan itu siapa? Meninggal itu apa? Kenapa mama haid? Sombong itu apa? Kenapa ada orang gemuk? Kenapa kuman bikin sakit? Dan lain-lainnya. Dan alternatif jawaban yang ditulis oleh mba Pritha dan bu Sian di buku ini selalu berhasil membuat saya bergumam oiya ya. Oiya bener juga ya.

Di buku ini juga disampaikan bawah ada rumus sederhana saat menghadapi pertanyaan sulit dari anak-anak:
Pertama, tetap tenang. Tenang saat anak-anak mendadak bertanya tentang sesuatu. Kita sebagai orangtua perlu tahu mengapa mereka menanyakan hal tersebut, karena itu akan membantu bagaimana kita merespon dan menjawab pertanyaan tersebut.
Kedua, berikan jawaban sejujur mungkin dengan bahasa sederhana sesuai daya tangkap anak.
Yang ketiga, jika membingungkan dan belum dapat menjawab saat itu jangan dipaksakan menjawab. Tangguhkan, katakan sejujurnya akan mencari tahu jawabannya terlebih dahulu.

Nah, kalau menurut saya pribadi sih buku ini recommended sebab apa yang dituangkan di situ memang sesuatu yang secara umum dialami para orang tua. Penuturan yang ringan dan santai bikin enak dibaca. Jadi, monggo silakan baca untuk yang tertarik 😀

Weekend Project: Kids Corner

Belakangan ini hujan sudah semakin sering menyambangi Tangerang. Hampir tiap hari malah. Terkadang pagi terang benderang, begitu mendekati tengah hari langsung mendung dan turunlah hujan. Atau sebaliknya.

Alhamdulillah cuaca jadi lebih adem. Tak sepanas bulan-bulan sebelumnya. Anak-anak tentu senang. Namun salah satu imbasnya mereka jadi lebih jarang bermain di luar ruangan. Biasanya setiap bada ashar mereka bermain di luar rumah, sekedar bersepeda atau berlari kesana kemari.

Akhir-akhir ini pun kalau weekend kami jadi jarang bermain ke taman. Malah lebih sering main di playground. Pun si adik lagi seneng-senengnya main perosotan, jadilah cocok dan seneng banget main di playground.

Nah, berhubung kakaknya juga sedang libur sekolah, setiap hari anak-anak bermain berdua di rumah. Kami berpikir bagaimana ya bikin anak-anak betah, terlebih dalam cuaca begini. Lalu tercetuslah suatu ide untuk membuat kids corner, ya sebutan kerennya begitulah pokoknya.

wp-1450610044334.jpeg

 

Ada satu kamar di rumah yang sementara disulap menjadi tempat main mereka. Karpet evamat yang sudah tidak lengkap -karena isiannya bolong-bolong entah kemana- digelar kembali. Lalu hari  kemarin kami ke Asemka.

Yeay, pasar Asemka. Niat banget ke Asemka dari Bintaro. Haha. Dari ujung ke ujung. Begitu sampai lokasi anak-anak langsung berbinar-binar meihat mainan di mana-mana. Dan setelah keliling di beberapa penjual, dibelilah tenda-tendaan yang ada terowongannya yang ukurannya relatif besar supaya si kakak bisa ikut main. Juga membeli beberapa wallpaper lucu untuk menghias dinding kamarnya. Dan sesorean kemarin sepulang dari Asemka, dieksekusilah ide tadi. Foto di atas itulah hasilnya.

Bagaimana, lumayan kan? Semoga anak-anak jadi semakin betah bermain di dalam ruangan. Selain menjadi tempat main, semoga dengan adanya pojok untuk anak ini bisa mengurangi berantakannya mainan bocah dimana-mana. Biar jadi satu di sana saja sehingga beberesnya nanti juga lebih mudah *emakmales* 😀

Parenting Ala-Ala: Negosiasi

mommy and kid

Foto ilustrasi dari: sini

Negosiasi dengan anak? Serius? Iya donk. Serius pakai banget. Haha. Bahasanya keren banget ya: negosiasi. Padahal aslinya maksudnya ya tawar menawar dengan anak untuk mencapai suatu kesepakatan.

Ceritanya, weekend kemarin kami mencapai kesepakatan bahwa mulai hari ini si kakak tidak akan mendapatkan uang jajan untuk dibawa ke sekolah. Bahasa pendeknya: uang jajannya diskors dulu. Sebenarnya penyebabnya sepele: gara-gara soal tidur siang. Sekitar 2 atau 3 pekan yang lalu kami sounding ke kakak untuk merutinkan tidur siang, istirahat setelah pulang sekolah. Saat itu si kakak bilang iya, namun ternyata setelah dievaluasi dalam sepekan paling hanya sekali saja mau tidur siang, itu pun karena ketiduran.

Teruskan bacanya…

Car Seat – Dari Infant Hingga Portable

Pertama kali mengajak Khonsa bermobil jarak jauh adalah saat pulang kampung lebaran 2009 di usianya yang masih 5,5 bulan. Saat itu, sesuai dengan standar keamanan dan kenyamanan dalam membawa bayi, maka kami memilih memakai car seat selama dalam perjalanan. Berhubung saat itu adalah pertama kalinya mencoba memakai car seat, kami memilih untuk menyewa saja selama libur mudik lebaran. Pertimbangannya kami ingin melihat dulu sejauh apa adaptasi Khonsa dengan pemakaian car seat, apakah dia enjoy atau tidak. Alhamdulillah hasilnya ternyata sangat memuaskan. Perjalanan mudik pertama itu berjalan dengan lancar dan car seat jelas sangat membantu menyamankan bayi selama dalam perjalanan. Delapan jam menuju Cilacap dilalui Khonsa dengan bobok nyaman di car seatnya.

Selepas lebaran, kami memutuskan membelikannya car seat sendiri agar tidak perlu menyewa lagi :D.  Waktu itu hunting via online, dan rupanya berjodoh dengan infant carseat eks kado yang dijual oleh seorang bunda di Bandung lantaran beliau sudah punya. Car seat inilah yang menemani Khonsa hingga usia 1 tahun lebih sedikit, sampai ketika kakinya benar-benar sudah terlalu panjang dan tidak muat lagi. Mustinya harus memakai toddler car seat, tapi berhubung mobil yang kami miliki adalah mobil kecil dan toddler car seat sangat memakan tempat, ya sudah, berikutnya kami cukup memangku Khonsa ketika naik mobil.

Beberapa bulan lalu, ayah Khonsa mengenalkannya pada seat belt. Jadi di mobil yang kami miliki, di kursi belakang ada seat belt khusus untuk balita. Walaupun awalnya agak susah, namun lama-lama Khonsa mau juga memakai seat belt anak tersebut. Hanya saja, terkadang ia tidak betah dan meronta minta dilepas :D. Namanya anak-anak, maunya bergerak bebas bermain walaupun sedang di dalam mobil.

Nah, gambar di atas adalah kisah Khonsa dan car seat terbarunya. Rupanya ada portable car seat (saya cukup telat mengetahuinya) yang ternyata lebih praktis dan cukup membantu dipakai untuk balita. Baru beberapa hari ini saya mencoba memakaikannya untuk Khonsa, dan ternyata dia nyaman dan senang. Saya juga cukup senang karena portable car seat ini jelas tidak makan tempat, dan praktis plus mudah dibawa kemana-mana. Mudah-mudahan untuk seterusnya Khonsa betah deh ;).

Tips Memilih Sekolah Anak

Sedang browsing-browsing soal sekolah untuk balita. Ketemu artikel bagus ini. Hayuk mari dibaca :D. Source dari SINI.

***

Sudah ancang-ancang memasukkan si kecil ke sekolah tahun ini? Atau mungkin Anda malah sudah punya sekolah pilihan untuknya? Mengingat begitu banyaknya penawaran, inilah beberapa hal yang mungkin dapat membantu Anda mengambil keputusan:

Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi, jangan terlalu dini memaksakan pendidikan yang ‘serius’ bagi anak.agar masa bermainnya tidak terenggut. Apalagi kalau Anda masih membebani anak dengan sederet les tambahan, mulai dari membaca, berhitung, piano, balet, dll. Pendidikan untuk anak-anak di bawah usia enam tahun tak harus selalu berupa pendidikan formal. Playgroup atau taman bermain, prasekolah maupun TK seharusnya hanya menjadi fasilitator dalam menstimulasi perkembangan anak, baik fisik (motorik kasar maupun halus), mental (kognitif), emosi, sosial, dan kemampuan berbahasanya.

Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki ‘unconditional love’. Artinya, guru-guru di sekolah itu bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntut anak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, dan mendorong anak untuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugasnya. Teruskan bacanya…

Tanda-Tanda Bayi Cukup ASI

Saya copas dari http://health.detik.com
Penting untuk dibaca para orangtua baru 😀

Sebagian besar ibu yang menyusui mungkin bertanya-tanya apakah bayinya sudah mendapatkan ASI yang cukup atau belum. Untuk mengetahuinya ada beberapa hal yang bisa dievaluasi si ibu.

Bila bayi mendapatkan ASI eksklusif dan tidak ada asupan lainnya maka sulit bagi ibu untuk mengetahui sudah berapa banyak susu yang diminum oleh si kecil, hal ini akan membuat ibu khawatir apakah bayinya mendapat nutrisi yang cukup atau tidak.

Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC yang pernah ditemui detikHealth menuturkan dalam 6 bulan pertama kehidupan semua kebutuhan nutrisi dari protein, karbohidrat dan lainnya sudah tercukupi dari ASI eksklusif.
Teruskan bacanya…

Clodi Corner : Coolababy Bamboo

Ah ya. Salah satu racun yang dari kemarin lupa di-share di sini. Racun cloth diaper, wkwk. Termasuk telat barangkali, tapi pada akhirnya saya jatuh cinta juga sama yang namanya Coolababy Bamboo.

Seperti yang banyak emak-emak katakan, clodi ini memang jika dipakai cuttingnya lumayan slim alias nggak bulky, jadi di badan Khonsa yang juga slim, jatuhnya enak dipandang :D. Soal daya serapnya, yang jelas karena innernya bamboo, maka permukaannya jadi lebih tahan lama dipakai, cepat kering. Jagoan pokoknya. Pas kapan hari saya cobakan di Khonsa saat keluar rumah, alhamdulillah setengah hari aman dan nyaman. Dilepas pun saat masih bisa dipakai, tetapi karena sudah sampai rumah ya selesai pakai cloth diapernya.

Harganya masih lumayan terjangkau kok. 🙂
Jadi ya, bisa dijadikan salah satu alternatif buat bunda yang lagi nyari clodi.