Operasi Gigi Geraham Bungsu

05/03/2017 § Leave a comment

Berawal dari sekitar 3 minggu yang lalu ketika saya merasakan sakit gigi hebat di gusi bawah sebelah kanan. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya terasa senat senut, kebetulan pas flu dan demam juga jadi sempat minum parasetamol sebagai pertolongan pertama. Tapi beberapa hari senat senutnya makin berasa. Puncaknya semalaman saya merasakan nyeri hebat di bawah geraham kanan bawah yang rasanya sungguh aduhai: dari leher sampai telinga dan kepala.

Siangnya saya ke salah satu klinik gigi dan oleh dokternya diresepkan antibiotik 500 mg plus parasetamol sebagai pereda nyeri. Sekalian tambal gigi geraham kiri yang mulai bolong. Lucunya pada saat di situ sakit di gusi kanan bawah hampir tidak berasa, jadi beliau hanya mengira nyeri gusi biasa saja. Bisa jadi dari salah satu geraham yang memang sudah tinggal akar dan direkomendasikan dicabut setelah tidak sakit gusinya. Oke baiklah. Dengan hati riang saya pulang.

Malamnya ternyata nightmare-nya kembali. Nyeri hebat datang lagi dan kali ini seperti kontraksi mau melahirkan: pakai jeda sekitar 3 menit sekali. Rasanya ingin menjedotkan kepala ke tembok tiap nyeri datang. Itu juga masih harus sambil momong dan menyusui si bayi sebulan, jadi menguatkan diri menahan nyeri yang semakin menghebat.

Hari berikutnya, saya pindah dokter gigi. Ke klinik dr Ivonny Hawari di dekat rumah. Ketemu beliau, dicek sana sini, disuruh rontgen gigi sekitar gusi yang sakit dan dokternya langsung ngomong: “Saya sih curiganya nyerinya dari geraham bungsu yang ujung ini bu. Udahan posisinya miring, dia mendesak geraham depannya, mulai goyang ini bu depannya.” Langsung ingatan saya melayang ke 2 tahun lalu saat scaling gigi dengan salah drg di RS Premier Bintaro. Saat itu beliau menyarankan saya ketemu spesialis bedah mulut untuk minta pertimbangan soal gigi geraham bungsu yang posisinya terlihat miring. Namun berhubung harus appointment agak lama dan saat itu sedang riweuh-riweuhnya di rumah karena tidak ada asisten jadi terlupa begitu saja. Oleh dr Ivon kemudian saya diberi obat pereda nyeri, antibiotik dan obat untuk bengkak gusi yang aman untuk busui dan alhamdulillah keluhan berangsur menghilang.

Sepekan setelahnya yaitu weekend lalu saya kembali kontrol ke dr Ivon. Nah, kali ini muncul keluhan baru. Gusi geraham bungsu meradang hebat, bolak balik ngaca terlihat memerah sekali. Sebenarnya tidak sakit, hanya jika tersenggol akan sedikit tidak nyaman, dan berasa mengganjal. Melihat itu, beliau langsung menyarankan untuk mengakhiri penderitaan dengan operasi gigi geraham bungsu. Wah. Jederrr. Saya kaget. Panik tepatnya. Haha. Niatnya mau mencabut gigi gerahan yang tinggal akar terlebih dahulu sebelum berpisah dengan si bungsu. Belum siap mental pula gara-gara sempat googling soal operasi gigi geraham bungsu ini yang mana rata-rata horor dan menyeramkan. Tapi pak suami yang setia mengantar saya menyatakan: “iya dok minggu depan aja.” Oh tidaaaak. Dari situ saya dibekali rujukan untuk melakukan rontgen panoramic seluruh gigi dan beli antibiotik dan obat kumur yang harus dikonsumsi sebelum operasi.

Hari Senin malam kemarin saya ke RS Premier Bintaro untuk melakukan rontgen panoramic. Agha ditenteng ikut dan ternyata prosesnya sebentar saja. Dan sepanjang minggu kemarin keseharian saya hanya diisi dengan kegalauan maksimal menjelang operasi. Hahaha. Duh sabar ya pak suami jadi tempat menggalau. Tak lupa minta testimoni teman-teman yang pernah operasi gigi geraham bungsu sebelumnya. Alhamdulillah sih kalau dari teman-teman semua mengatakan tenang nggak sakit, nggak ngeri, nggak horor dst. Semua positif entah beneran entah membesarkan hati saya doang, LOL.

Dan datanglah hari H. Sabtu 4 Maret 2017. Seharian dari pagi saya senewen. FYI, saya operasi gigi bungsu di klinik dr Ivon dengan spesialis bedah mulut yaitu kolega beliau yang khusus didatangkan untuk pasien yang butuh oral surgery seperti impaksi dll. Ada sih pilihan bedah mulut di RS, namun mengingat Agha belum bisa ditinggal lama jadi saya memilih melakukan operasi ini di klinik dr Ivon saj yang dekat dari rumah. Appointment jam 16.30, saya sampai sana tepat waktu dan dokter bedah mulutnya masih terjebak macet. Malah grogi kelamaan menunggu beliau yang akhirnya baru datang jam 17.30.

Dan tibalah saatnya eksekusi. Sebagai persiapan, awalnya saya disuruh berkumur dengan air yang sudah dicampur dengan semacam betadine. Setelah itu bagian mulut luar dan dalam dioles dengan larutan betadine, kata dokter bedah mulutnya biar steril. Habis itu muka ditutup kain ijo yang bolong di bagian mulutnya saja. Setelah itu tibalah sesi menyuntikkan bius lokal yang kata orang-orang: sakit banget.

Jreeeeng. Saya sudah siap dengan teriak atau nangis aja waktu dibius. Ternyata: nggak sakit. Walau berasa jarumnya nembus tulang rahang, tapi rasa sakitnya masih bisa ditolerir. Jauh lebih sakit kontraksi saat bukaan menuju lengkap mau lahiran, wkwkwk. Jadi masih bisa rileks saat dibius di 3 titik. Setelah itu perlaham saya mulai merasakan bibir agak kesemutan, berasa tebal dan kebal separuh mulut.

Saat Tindakan

Setelah bius bereaksi, operasi pun dimulai. Saya merem aja. Lagian mukanya juga ditutup kain jadi nggak bisa lihat alat-alat apa saja yang masuk bergantian ke mulut. Saya cuma mendengar dokternya minta pisau lah, pinset lah, bor lah, tang lah, kasa lah, jarum lah, benang lah. Dan benda-benda horor lainnya. Yang jelas saya merasakan gusi dan rahang ditowel-towel sana sini, namun tidak berasa sakit sama sekali. Hingga akhirnya 2x kepala saya dipegangi dan yang saya tahu itu adalah saat si gigi berhasil dikeluarkan. Pada saat dijahit terasa ada benang masuk masuk mulut, tapi sekali lagi: tidak berasa sama sekali karena efek biusnya. Pasrah pokoknya, disuruh mangap ya mangap, disuruh gigit kasa ya gigit kasa dst. Setelah berjibaku selama sekitar 20 menit akhirnya operasi gigi bungsu plus pencabutan akar geraham lainnya dinyatakan selesai. Alhamdulillah. Ternyata cepat walaupun drg dan dr sp bedah mulutnya sama-sama perempuan namun keduanya cekatan dan keren (sempat khawatir karena beberapa teman menyampaikan pilih dokter laki-laki saja yang tenaganya kuat, ternyata hal tersebut tak selalu benar).

Pasca tindakan, kemudian saya dibekali pesan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Rangkuman singkatnya:

  • Boleh: makan minum dingin, kompres pipi dan rahang dengan es batu 24 jam pertama, kompres hangat hari haru berikutnya untuk melancarkan peredaran darah.
  • Tidak boleh: meludah (darah telen aja), pakai sedotan, berkumur sampai kurleb 1x24jam, sikat gigi sampai kurleb 1×24 jam, makan panas, dan menghisap-hisap daerah luka.

Saya pulang dengan mulut setengah terbuka karena harus menggigit kasa tampon kuat-kuat selama 1 jam pasca operasi. Berhubung obat sudah disediakan oleh klinik dan sebelum operasi saya sudah makan maka 1 jam setelahnya langsung minum obat. Perjuangan dimulai. Rahang agak kaku dan nyeri tapi saya paksakan membuka. Minum air putih begitu masuk mulut ya beraroma darah. Rasanya mau muntah tapi ditahan. Langsung ambil es batu dari kulkas untuk mengompres. Dan walaupun idealnya langsung istirahat namun ya tetap harus sambil momong bayi :D.

Sekarang hari kedua pasca operasi. Masih kagok tiap kali buka mulut mau makan dan minum, padahal asupan nutrisi busui harus tetap terpenuhi. Kadang kalau terlalu ketarik rahangnya ada sensasi kayak kesetrum. Tapi di atas semuanya, saya bersyukur si sumber sakit gigi sudah diambil. Horor teringat senut senut yang menjalar dari leher sampai kepala saat itu.

Jadi, buat yang punya geraham bungsu bermasalah dan direkomendasikan untuk dicabut, jangan takut. Nggak sehoror yang dibayangkan walau sebelum tindakan galaunya sampai level ingin menangis. Kata pak suami, pasrah aja mau diapain sama dokternya. Kata ibu saya, percaya pada instruksi dokter. Dan memang benar ternyata, pasrah saja, tidak sakit kok. Setidaknya tak sesakit saat lihat tagihan biaya operasi yang harus dibayar, haha.

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Operasi Gigi Geraham Bungsu at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: