Parenting Ala-Ala: Negosiasi

07/12/2015 § Leave a comment

mommy and kid

Foto ilustrasi dari: sini

Negosiasi dengan anak? Serius? Iya donk. Serius pakai banget. Haha. Bahasanya keren banget ya: negosiasi. Padahal aslinya maksudnya ya tawar menawar dengan anak untuk mencapai suatu kesepakatan.

Ceritanya, weekend kemarin kami mencapai kesepakatan bahwa mulai hari ini si kakak tidak akan mendapatkan uang jajan untuk dibawa ke sekolah. Bahasa pendeknya: uang jajannya diskors dulu. Sebenarnya penyebabnya sepele: gara-gara soal tidur siang. Sekitar 2 atau 3 pekan yang lalu kami sounding ke kakak untuk merutinkan tidur siang, istirahat setelah pulang sekolah. Saat itu si kakak bilang iya, namun ternyata setelah dievaluasi dalam sepekan paling hanya sekali saja mau tidur siang, itu pun karena ketiduran.

Akhirnya kemarin kami berdiskusi dan negosiasi kembali. Tawar-menawar yang cukup alot dan mencapai kesepakatan seperti ini: karena kakak tidak menepati janji, konsekuensinya adalah skorsing uang jajan sementara. Walaupun awalnya menangis, namun pada akhirnya kakak bisa menerima dengan lapang dada kesepakatan tersebut😀.

Seberapa sering sih kita negosiasi dengan anak-anak? Kalau diingat-ingat, rasanya perihal tawar-menawar dengan anak ini tak sadar sudah kita lakukan bahkan sejak mereka baru bisa mengekspresikan keinginannya dengan gerak tubuh. Kemudian menjadi semakin intens ketika mereka sudah bisa bicara lancar, mengemukakan dengan jelas apa yang mereka inginkan, dan memasuki usia batita, balita dan akhirnya usia sekolah tantangannya lebih besar lagi.

Suatu kali saat anak ingin memegang mainan atau benda yang cukup berbahaya untuk usianya, mungkin kita otomatis akan bilang “jangan dek, itu berbahaya.” Saya pun demikian biasanya. Padahal ternyata, idealnya kita harus bisa mengembangkan alasan yang lebih mudah diterima oleh si anak. Di artikel ini, poin pertama yang disebutkan sebagai persiapan tawar menawar dengan anak adalah berikan penjelasan dan alasan mengapa.

Saya lupa pernah membaca artikel di mana ya, yang jelas saya suka  dan ingat sekali kata-katanya yang bilang kalau negosiasi itu tak selalu mama yang harus menang. Boleh dibilang win-win solution. Pengalaman menghadapi bocah yang lagi keras kepala atau tantrum biasanya dikeluarkan jurus mengapa begini mengapa begitu pun akan susah diterima. Butuh waktu sih biasanya, butuh beberapa saat sebelum mereka mencerna alasan kita, butuh dibujuk, butuh didekati dan diajak bicara dari hati ke hati. Dan kadang-kadang emaknya juga harus sedikit mengalah demi kesepakatan yang damai,😀.

Intinya, komunikasi. Bagaimana kita mengemukakan sesuatu hal ke anak-anak akan sangat berpengaruh pada bagaimana cara mereka menerima.

*Lalu teringat sebuah adegan di playground weekend yang lalu*
Ibu: “Dek ayo pulang”
Anak: “Nanti bu aku masih mau main”
Ibu: “Udahan dek udah siang pulang yuk”
Anak: “Nggak mau aku masih mau main”
*akhirnya si anak menangis ditenteng eh digendong pulang*

Ciraya65, 07122012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Parenting Ala-Ala: Negosiasi at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: