Ketika DB Menyapa

03/02/2015 § 3 Comments

Pekan lalu merupakan pekan yang cukup ‘mengagetkan’ untuk keluarga kami. Iya kaget. Untuk pertama kalinya, salah satu anggota keluarga kami ada yang kenalan dengan DB alias demam berdarah yang belakangan ini memang sedang mewabah di mana-mana.

Hari Kamis pekan sebelumnya, ayahnya anak-anak mengeluh pusing dan demam. Hari itu di kantor hanya tiduran, dan ketika sorenya pulang kantor ternyata demamnya masih ada. Hari Jum’atnya izin tidak masuk kantor, dan kondisi badan masih sama. Demam yang betah (tercatat suhunya sampai 39 derajat Celcius) namun telapak tangan dan kakinya super dingin, mengeluh pusing, namun tidak disertai dengan gejala flu lain seperti batuk atau pilek. Sebenarnya sudah deg-degan dan curiga arahnya ke gejala DB, namun karena nafsu makan masih sangat oke, tidak ada nyeri sendi atau pegal apapun, kecurigaan itu sedikit terpupuskan.

Sabtu paginya, diantar tetangga depan rumah akhirnya si ayah memutuskan periksa ke UGD RS yang akhirnya berujung di poli umum. Dokter mengatakan tak perlu cek darah dulu, tunggu sampai Senin kalau masih demam baru cek darah. Dibekalilah si pasien pulang membawa obat berupa parasetamol, antibiotik, dan obat anti alergi yang akhirnya tidak disentuh sama sekali. Hari Ahad demamnya sudah turun, si ayah bilang sudah lumayan segar. Tapi keringat dingin mengucur dengan deras. Saya mbatin lagi, apa jangan-jangan DB ya?

Senin pekan lalu, karena merasa baikan si Ayah pun akhirnya ke kantor. Saya sebenarnya merasa si Ayah masih pucat, tapi karena ybs merasa enakan, yowes monggo.  Nah, hari itu saya yang gantian izin karena Rahma demam batuk pilek sejak hari Ahad sore. Selasa pagi, Rahma masih demam tinggi. Saya memutuskan mengambil jatah cuti tahunan yang sangat berharga itu selama 3 hari kerja. Berhubung agak trauma dengan bronko pneumonia dan kemarin batuk Rahma terdengar cukup mengiris hati *halah*, wis saya pun memboyongnya periksa ke DSA. Nah, kebetulan praktik DSA ini satu RS dengan tempat si ayah periksa sebelumnya. Karena saat si ayah periksa itu sudah diberi pengantar untuk cek ke lab, sekalian saja saya usulkan untuk cek darah walau suhu tubuhnya tak lagi demam. Sekali lagi, di mata istrinya ini wajahnya masih pucat😀.

Selasa siang, baru saja membuka pintu rumah selepas menyelesaikan urusan di RS, si ayah menerima telepon dari petugas lab. Kurang kebih percakapannya adalah: “Pak, boleh ya cek ulang darahnya. Sebab trombosit bapak cuma 57 ribu sahaja” (Innalillahi, dan saya melihat muka si ayah langsung berubah ekspresi :S). Jadilah si ayah  kembali ke RS dan setelah dicek ulang, trombositnya tetap di angka 57 ribu dan dinyatakan positif DB. Langsung direkomendasikan rawat inap oleh dokter UGD walaupun orangnya dianggap masih ‘on’ (secara biasanya dengan kadar trombosit segitu biasanya orang sudah kliyengan dan tepar), dan resmilah siang itu jadi pasien rawat inap.

Opname karena DB

Berhubung bocah cilik demam dan kami sekarang tidak memakai ART, saya pun tidak bisa menemani si ayah selama rawat inap. Hihi. Jadi pasien mandiri, datang sendiri, daftar sendiri, masuk kamar sendiri dan ngapa-ngapain sendiri.  Saya hanya sempat menengok si ayah satu kali di hari terakhir rawat inap saat Rahma sudah baikan dan bisa masuk daycare lagi. Sisanya? Ya cuma bisa saling support via whatsapp😦.  Apalagi Selasa malam itu Khonsa pun ikut demam sehingga paginya tak saya izinkan masuk sekolah karena kebetulan hari itu jadwal berenang.

Setelah 2 malam opname, Kamis siang si ayah dinyatakan boleh pulang. Kadar trombositnya sudah naik di angka 88 ribu hari itu, jadi dokter menyatakan tak ada alasan lagi untuk berlama-lama nginep di RS. Rahma pun demamnya turun sejak Rabu malam, benar-benar plek demam common cold 3 hari.  Khonsa kamis juga sudah bisa sekolah.  Alhamdulillah semuanya mulai cerah kembali walau anak-anak masih uhuk-uhuk berjuang dengan batuk mereka.

Dari baca-baca berita sepertinya wabah DB sedang melanda di mana-mana. Jadi khawatir dan paranoid tiap mendengar ada suara nyamuk nguing2 di siang hari. Oiya, ternyata bintik-bintik yang menjadi salah satu ciri DB kemarin tak nampak di badan si ayah.  Nyeri sendi juga negatif.  Nafsu makan pun tidak berkurang. Malah jadi takut sendiri kalau gejala DB jadi samar-samar begini ya.  Benar-benar hanya terbukti dengan pemeriksaan kadar trombosit.  Tapi apapun, alhamdulillah semua sudah berlalu. Lega rasanya, tinggal emaknya nih yang berasa remuk redam sepertinya kelelahan. Sehat, sehat, sehat.

Tagged: , ,

§ 3 Responses to Ketika DB Menyapa

  • bunda4R says:

    walah rin..sehat2 semua ya..

    kemarin di rumah juga pada sakit bergantian..rafi sampe sepekan gak masuk sekolah, lanjut rifa demam 3 harian, gantian si bayi juga ikutan dan gak lama rayyan juga ikut ambruk..skrg udah gak ada demam, tapi masih pada batuk2 aja ini..nafsu makan yg sudah membaik baru si rafi..lainnya masih sedikit2 makannya..

  • Rina says:

    iya mbak ya
    lagi musim sakit (sakit kok musim ya?)
    di daycare anak2 juga gantian ga masuknya, byk yg tumbang kena flu
    di skolah khonsa pun demikian, gantian ga masuk krn sakit

    sehat2 semua ya mbak
    salam untuk 4R🙂

  • Faizin says:

    setelah kesulitan, ada kemudahan. alhamdulillah ya udah pulih semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ketika DB Menyapa at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: