Drama Sakit Campak

26/01/2014 § 2 Comments

Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demambatuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramixovirus. [Wikipedia]

Pertengahan Desember lalu, si kakak tiba-tiba demam tinggi tanpa sebab. Sebagai emak-emak muda dengan dua anak balita, ya tentu saja saya panik. Panik mencari sebabnya, tepatnya. Karena demam kali ini nampak tanpa sebab dan hampir stabil di suhu 39-40 derajat Celcius. Hari ke 5, bertepatan dengan saatnya adek bayi imunisasi campak. Karena saat demamnya tak kunjung turun dan si kakak mulai malas makan dengan keluhan sakit tenggorokan, akhirnya kami membawanya periksa ke dsa langganan di RSIA Buah Hati Ciputat. Tes darah, aman. Nothing wrong. Dsa memberikan obat hanya untuk tenggorokannya yang kata beliau memang meradang. Pada saat itu, saya masih belum ngeh kalau ada beberapa bintik-bintik merah di leher kakak. Paginya, whoaaa. Ternyata oh ternyata dari mulai tengkuk, leher, dan dada si kakak muncullah bintik-bintik merah yang orang Jawa sebut gabagen a.k.a campak. Mulailah kami berjuang memisahkan kakak dan si bayi. Takut si adek tertular.

Setelah 3-4 hari ruam merata dan mulai layu, nafsu makan kakak mulai membaik. Emaknya mulai bisa tenang dan senyum. Setelah dirunut, kemungkinan besar si kakak tertular campak dari temannya di sekolah. Karena di saat yang sama, sekitar 4 anak juga tidak masuk sekolah dengan keluhan yang sama.

Tepat sepekan setelah si kakak sembuh, tiba-tiba adek bayi ikutan demam. Waduh, saya sudah membatin, jangan-jangan ketularan kakaknya ini. Lha wong bagaimanapun, mau dipisah kayak apa, adek bayi tetep mendatangi tempat tidur kakaknya yang sudah dipisah kamar, manjat ke kasur, ngajak main-main. Hari ke-4 demam, meskipun masih tenang, saya membawa adek bayi ke dsa. Hari itu sebenarnya sudah mulai ada bintik di leher, tapi samar sekali. Hampir mirip biang keringat. Dsa belum bisa mendiagnosa apakah itu benar bintik campak, hanya beliau mewanti-wanti untuk terus menggempur ASI dan jangan sampai kekurangan cairan saat si adek demam.

Dan ternyata si adek bayi benar terkena campak. Masih ingat benar malam setelah ke dokter, emaknya ini harus begadang semalaman karena adek bayi tak bisa tidur. Terlelap sebentar, merengek. Nangis. Dipangku, tidur. Ditaruh, bangun. Paginya baru terlihat jelas seluruh badan adek bayi ruam merah-merah merata. Berbeda dengan si kakak, ruam-ruam di tubuh adek menghilang lebih cepat. Setelah ruam muncul rata, demam turun dan adek bayi terlihat kembali ceria.

Saat berkunjung ke dsa, beliau sempat menekankan beberapa hal mengenai campak. Campak tak ada obatnya. Yang diobati adalah gejala-gejala yang menyertai. Demam, batpil, radang tenggorokan. Pada beberapa anak disertai dengan sakit mata dan juga diare (yang dua ini kemarin alhamdulillah tidak). Campak sangat menular. Orang dewasa bisa pun bisa kena, penularannya lewat percikan ludah penderita saat bersin atau batuk. Disarankan penderita memakai masker (ya kalau si kakak sih bisa, kalau adek bayi mana bisa ya). Dsa juga menekankan bahwa pasca campak biasanya kondisi badan akan drop dan kurang fit, jadi sebaiknya tetap istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, jaga kesehatan.

Awal Januari seusai anak-anak sembuh dan bertepatan dengan liburan sekolah kakak, mudiklah kami ke kampung halaman. Niatnya tentu saja liburan. Tak disangka, drama sakit campak ternyata berlanjut dan kali ini dialami emaknya. Huhu. Berbeda dengan anak-anak dan mungkin tak saya rasakan demamnya, tahu-tahu suatu pagi muncullah ruam di tengkuk dan leher. Memang selama beberapa hari itu tenggorokan sakit dan di bagian belakang telinga berasa ada benjolan dan kepala terasa pusing, leher terasa tegang. Dan terjawablah beberapa keluhan itu dengan hadirnya ruam campak di seluruh tubuh. Liburan pun akhirnya berubah jadi istirahat total. Ternyata benar yang dulu dsa sampaikan, sakit campak itu memunculkan pegal-pegal di seluruh badan. Tenggorokan tak enak untuk menelan, rasanya ingin minum terus. Dan juga, ruamnya terasa gatal😀. Oiya, dan ternyata ini adalah campak kedua saya setelah dulu saat TK juga pernah mengalaminya.

Alhamdulillah sekarang semua sudah kembali sehat. Masih waswas dengan virus campak yang masih mungkin menghinggapi anggota keluarga lain. Soalnya dsa adek bayi waktu itu berpesan kalau masa aman campak itu sektiar sebulan setelah ruam penderita muncul. Kalau dalam sebulan ke depannya tak ada yang tertular, berarti aman. Mudah-mudahan saja begitu.

§ 2 Responses to Drama Sakit Campak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Drama Sakit Campak at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: