Catatan Mudik Idul Fitri 1433H

06/09/2012 § 3 Comments

Agak berbeda dengan lebaran-lebaran tahun sebelumnya, tahun ini kami memilih hari H idul fitri sebagai hari keberangkatan mudik. Pertimbangannya selain cuti si Ayah hanya H+ saja yang berarti sebelum hari H agak mepet, dengan mudik di hari H kami berharap jalanan sudah tidak begitu macet. Awalnya sempat galau mengingat usia kehamilan yang masih awal, namun akhirnya bismillah, berangkat mudik setelah berbekal izin dari ibu dokter kandungan yang sempat kami temui pada kontrol terakhir sebelum mudik.

Tangerang – Cilacap

Hari Ahad, 19 Agustus sekitar pukul 03 dinihari. Setelah malam sebelumnya tas-tas dan bekal mudik dimasukkan ke mobil, dinihari itu kami memutuskan berangkat. Sholat Ied insya Alloh nanti dilaksanakan di jalan, dengan asumsi jika lancar mudah-mudahan bisa sholat di seputaran Bandung. Tahun ini kami memilih jalur selatan sebagai rute mudik, mengingat reportase di TV, media cetak, maupun twitter dan semacamnya masih melaporkan kepadatan pantura sejak H-3 lebaran.

Setengah 4 kami bertiga berangkat dari Tangerang. Bismillah. Suasana dinihari masih sepi. Masuk tol apalagi, bisa agak ngebut untuk menghemat waktu. Aroma mudik baru terasa di rest area km 57 Tol Jakarta-Cikampek. Kami berhenti untuk sholat subuh dan membeli makanan. Rest areanya lumayan ramai, dan bertemu dengan rombongan pemudik lain yang nampaknya berpikiran sama dengan kami untuk berangkat mudik di hari H. Bada subuh kami melanjutkan perjalanan berikutnya, menuju Tol Cipularang.

Sekitar 06.30 pagi kami keluar tol Cieunyi dan toeww. Jalur ke kanan arah Nagreg ditutup. Mau tidak mau harus lurus dan berarti nanti lewat Sumedang (tembus Cirebon atau tembus Tasik via Wado). Sepuluh menit dari exit Tol Cileunyi kami berhenti untuk sholat Ied di Masjid Darul Ma’arif kompleks IPDN Jatinangor. Sekitar pukul 07.15 perjalanan dilanjutkan, dan kami memutuskan mencoba jalur baru menuju Tasik via Wado (Sumedang).

Ini tentu saja pertama kalinya melintasi jalur Wado. Cukup menegangkan karena jalurnya naik turun gunung dan berkelok-kelok. Karena sepi, perjalanan jadi terasa lebih enak. Lancar. Untuk rute naik turun si tozzy yang mobil kecil memang tidak terlalu cocok, jadi ancang-ancangnya harus cukup lumayan, makanya jalanan yang sepi cukup menguntungkan buat kami. Keuntungan lewat jalur naik turun gunung adalah pemandangannya yang keren abis. Tidak sempat memfoto-foto memang, namun suasana hijau terlihat di mana-mana. Hampir setengah 11 kami baru turun dari Jalur Wado dan sampai Malangbong, alhamdulillah. Rute selanjutnya standar, Malangbong-Tasik-Ciamis-Cilacap. Sebelum sampai Cilacap kami mampir makan siang dan sholat, serta mencari oleh-oleh wuehehehe😀. Semakin siang jalanan juga semakin ramai, jadi tidak bisa se-ngebut saat di Tol atau di Wado🙂. Kurang lebih setengah 3 sore tiba di rumah Bapak Ibu Cilacap dengan sehaaat dan sedikit kucel, tapi dengan hati yang riang gembira karena bisa dibilang perjalanan mudiknya lancaaar.

Cilacap – Bantul
Hari Rabunya kami melanjutkan perjalanan menuju Bantul. Yeay. Baru berangkat jam 8.30 pagi, agak mendadak sebenarnya. Awalnya berencana kamis pagi-pagi, namun si Ayah memutuskan Rabu pagi saja berangkat ke Bantul. Kalau perjalanan Cilacap-Bantul kali ini, tidak terlalu istimewa. Maksudnya, rute yang dilewati ya hanya itu-itu saja😀. Seperti biasa, begitu masuk Kebumen kami memilih jalur Daendels (Petanahan-Bantul) lewat pinggiran-pinggiran. Rute ini cukup menghemat waktu dibandingkan jika melewati jalur normal Kebumen-Purworejo-Kulonprogo-Bantul. Jalanan relatif sepi, tak ada lampu merah😛. Bisa lihat sawah dan perkampungan khasnya. Kendalanya, di beberapa bagian ruas jalan agak rusak dan bolong-bolong penuh tambalan, jadi harus berhati-hati.

Salah Satu Pemandangan yang Kami Lewati

Di sekitar Purworejo kami membeli semangka. Terbayang segarnya menikmati semangka setibanya di rumah nanti, sekalian oleh-oleh untuk Ibu di rumah😀. Mampir di SPBU untuk ke toilet dan mengisi BBM, sampai rumah Bantul sekitar jam 2 siang. Total perjalanan sekitar 5 jam, tidak terlalu ngebut. Sengaja santai dan menikmati perjalanan.

Secara keseluruhan, puas dengan mudik tahun ini. Bisa menjajal rute baru via Wado tadi. Dan ternyata, mudik di hari H juga tidak macet. Senang sekali, trauma mudik 2 tahun lalu tidak terulang, saat kami harus menikmati 24 jam perjalanan Jakarta-Cilacap via Pantura. Oh iya, dan inilah pertama kalinya mudik bertiga saja dengan Khonsa setelah 3 tahun sebelumnya selalu bersama si mbak, namun tahun ini si mbak kami pulangkan duluan karena harus menjemput saudaranya di Pekalongan dahulu. Sepanjang jalan Khonsa tidur, tidak rewel, tidak ngeyel😛. Pokoknya judul mudik tahun ini : senaaaaaaang.

Tagged: ,

§ 3 Responses to Catatan Mudik Idul Fitri 1433H

  • buzzerbeezz says:

    Mudik road trip gini seru ya.. Kapan ya aku bisa mudik road trip kayak gini?

    • rina says:

      hehe iya seru
      pernah kena macet parah
      pernah mendadak mobilnya mogok dan harus nginep di kota orang
      enaknya bisa hafal jalan, bisa mampir2 dulu. santai. capek ya berhenti, lapar ya bisa nyari makan, nyobain makanan khas kota2 yg dilewati.

      kapan2 semoga bs road trip ya🙂

  • rizal says:

    mantappp… saya H-4 di rest area 57 ga bisa gerak. Cikampek di tutup, dibuang lewat Sadang. Walhasil kurang tahu daerah ini, tapi ngekor plat B akhirnya sampe juga Cirebon…

    Jalur daendels pernah juga lewat sana, daerah kebumen ampun dah bolong-bolongnya.. ga recommended buat mobil yang ground clearance nya rendah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Catatan Mudik Idul Fitri 1433H at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: