Karena Jadi Ibu itu Harus Kreatif

27/12/2011 § 4 Comments

Gambar dari Google.

Salah satu hal yang saya pelajari dari menjadi seorang Ibu, selain tentang ilmu per-momong-an dan parenting, menjadi Ibu itu juga merupakan sebuah seni. Seni yang memerlukan kreativitas. Iya, kreativitas.  Ketika sedang mendongeng misalnya, Ibu perlu memiliki kreativitas improvisasi bagaimana menghadirkan dongeng tersebut secara nyata di depan si anak. Ketika si anak ngambek atau tantrum, si Ibu harus bisa kreatif mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang lain supaya tantrumnya berhenti. Dan satu hal lagi, soal makan dan makanan si kecil pun, sebagai Ibu harus kreatif supaya anak tidak bosan dan mau memakan segala jenis makanan.

Berbicara yang terakhir, saya pun mengakui bahwa semakin besar usia anak, maka kreativitas Ibu di dapur ternyata sangat menentukan.  Dulu, waktu anak masih awal MPASI mungkin soal masak-memasak ini sedikit lebih mudah. Tinggal memasak bubur atau kukus ini itu, rebus ini itu, saring ini itu, jadi. Berbeda ketika fase MPASI anak beralih menjadi table food alias sudah makan makanan yang sama dengan orang serumah, Ibu harus lebih pandai dan kreatif membuat variasi yang lebih menarik si anak.

Hingga saat ini di usianya 2 tahun 8 bulan, saya bersyukur karena Khonsa hampir tidak pernah memiliki kendala berarti dalam proses makan ini. Artinya kecuali kondisinya sedang tidak fit untuk kunyah mengunyah seperti saat hendak tumbuh gigi, sariawan, flu (sakit tenggorokan), alhamdulillah makan masih lancar jaya. Tetapi ternyata lancar jaya tidak menjamin si anak mau memakan segala jenis macam makanan. Khonsa walaupun bukan tipe pemilih, seringkali tidak mau mencicipi jenis makanan atau menu baru.  Sayuran, biasanya juga harus diakali supaya dia mau menghabiskannya misalnya dengan memotongnya dalam bentuk lucu dan semacamnya. Atau mengolah jenis makanan baru dalam bentuk yang disukainya. Beberapa saat lalu misalnya, saya mencoba mengisi kulit pangsit dengan adonan perkedel tahu supaya Khonsa lebih suka tahu. Hasilnya? Waw, ajib. Sampai dengan hari ini, tiba-tiba tahu menjadi makanan favoritnya😛.

Itu baru soal makanan. Berbicara soal kreativitas yang lain, saya sekarang merasakannya setiap hari saat menjelang tidur. Ketika bed time stories menjelang tidur mulai rutin, maka kemudian Ibu harus punya stock kreativitas bercerita dan berimprovisasi. Baca buku misalnya, ketika yang dibacakan adalah cerita dengan beberapa karakter penokohan, paling tidak saya harus kreatif membacakan dengan intonasi yang pas dan suara yang berbeda-beda. Pun demikian saat ceritanya beralih menjadi cerita binatang. Ketika harus bisa menirukan suara kucing, singa, ayam dan seterusnya. Kadang-kadang saya nyengir ketika tiba-tiba Khonsa bertanya, “suara gajahnya gimana bu?” Hwaduh, susah-susah gampang😀.

Pokoknya, menjadi Ibu itu ternyata membuat kreativitas yang saya miliki harus selalu meningkat.  Tiba-tiba saya yang dulu hanya mendapatkan nilai maksimal 7 di pelajaran menggambar sekarang harus bisa menggambar helikopter, kapal, burung, bebek, gajah, sepeda dan seterusnya sesuai permintaan si anak. Menyulap kardus menjadi kotak mainannya, menyulap kertas-kertas menjadi benda-benda yang setidaknya menurutnya mirip dengan benda-benda di sekitarnya dst. Dan yang paling maknyus, tadi pagi saya mendadak jadi tukang salon dan merapikan rambut Khonsa lantaran dia tidak mau saya ajak merapikan rambutnya di tangan sang ahli 😀

Salut untuk semua Ibu hebat di dunia. Tetap kreatif ya moms…

Tagged:

§ 4 Responses to Karena Jadi Ibu itu Harus Kreatif

  • hafizah says:

    pengen belajar jadi calon ibu juga ni dari mba hehe…

  • Restia Priwardani says:

    Nice story Mba, sebagai orang yang masih single saya juga berpikir demikian : suatu hari harus bisa jadi Super Mom. Karena masih single, persiapan saya untuk masa depan saya kelak : belajar masak, belajar momong anak kecil… ^^

    • rina says:

      good luck🙂
      well prepared better than tidak sama sekali *halah*

      tp kdg2, ada hal2 yang mengalir begitu saja🙂

      • Restia Priwardani says:

        wow, mengalir begitu saja ? Belum kebayang Mba, belum mengalami sih, hihi..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Karena Jadi Ibu itu Harus Kreatif at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: