Berakhir di Usia 8 Minggu

18/11/2011 § 16 Comments

Hari ini, 18 November 2011.

Ternyata titipan kedua kali ini, hanya berusia 8 minggu saja. Sampun dipundhut wangsul olehNya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.  Sesungguhnya, segala sesuatu berasal dari Allah SWT, dan akan kembali kepadaNya.

***

Kamis dinihari kemarin, setelah berhari-hari flek coklat terus on off, ada sedikit flek merah yang keluar. Alhamdulillah seharian tidak apa-apa, tapi seharian saya memang hanya bedrest. Jumat pagi tadi, dinihari. Mendadak bleeding agak banyak, disusul dengan gumpalan-gumpalan kecil beberapa kali. Shocked, iya. Saya segera mengabari pak suami yang masih dinas di pulau Borneo. Entah memang sudah feeling sebelumnya, pak suami sempat me-reschedule flight Jumat siang pindah ke Jumat pagi.

Bada subuh. Nyeri perut dan kram seperti pada saat haid mendadak datang berkali-kali. Saya teringat kontraksi saat akan melahirkan Khonsa dulu. Beberapa kali kontraksi, saya lari ke kamar mandi. Dan bleeding disertai gumpalan-gumpalan tersebut masih keluar. Antara sadar dan tidak, saya tahu. Kehamilan ini sudah hampir pasti tidak bisa tertolong.

Di sela-selanya, saya sempat menelepon beberapa RS namun entahlah, barangkali karena terlalu pagi tak satu pun operator telepon RS tersebut yang mengangkat. Teringat kontak seorang obgyn di bbm, lantas saya menghubungi beliau dan menceritakan kronologis kejadian. Alhamdulillah, hari ini beliau praktek di RSIA Buah Hati Ciputat, jam 8-jam 11 pagi dan meminta saya ke sana. Akan dicek apakah abortus yang terjadi sudah komplit, atau jika memang masih ada tersisa di rahim akan di kuretase (whoaa, denger kuretase saya langsung takut).

Pak suami mendarat di Soeta tepat pukul 8 kurang 10 menit, saya meminta beliau naik taxi saja ke rumah agar lebih cepat. Jam 9-an pak suami datang, kami segera menuju RSIA berbekal petunjuk arah dari seorang teman kuliah. Hampir jam 10 baru sampai, pendaftaran dan seterusnya. Lalu tiba giliran nama saya dipanggil, dan segera diperiksa. Dokter langsung melakukan USG transv dan mengecek adanya bukaan pada rahim. Hasilnya? Hiks. Kantong janin yang sudah tidak berbentuk bulat lagi masih tertinggal di dalam, bersama serpihan-serpihan jaringan bakal janin. Maka diputuskan, kuretase.Dan harus hari ini. Dokter meyakinkan kami bahwa kuretase tidak sakit, dan harus dilakukan segera agar rahim bersih, mencegah infeksi dan hal lain yang tak diinginkan.

Jam 11 kurang, saya diminta masuk ke ruang bersalin. Seumur-umur, baru kali ini terdampar di RS dan menjadi pasien😦.  Sebelum kuretase, saya sempatkan mengabari ibu dan meminta doa beliau agar semua berjalan lancar. Dan mengabari beberapa sahabat-sahabat yang selama ini tahu riwayat kehamilan kedua ini dari awal. Sayangnya, pak suami hanya boleh menunggui di luar ruangan😦. Setelah segala persiapan kuret dilakukan, alat, tempat, dan sebagainya. Kemudian jam 11 kurang 5 menit saya dipasangi bantuan oksigen dan dibius. Hal terakhir yang saya ingat hanyalah, perawat mengajak saya mengobrolkan tentang anak pertama dan bertanya apakah saya alergi obat dan semacamnya. Selebihnya, saya tertidur.

Jam 11.45, alhamdulillah perlahan mata membuka. Berkedip beberapa kali. Masih mengantuk dan terasa berat. Saya ingat si mbak perawat mengecek tekanan darah. Lalu membetulkan letak bantal. Beberapa saat mata membuka lagi, saya sempat bertanya, “sudah ya mbak kuretnya?”. Perawat mengangguk sambil senyum, “sudah Bu”.  Mata masih berat, saat seorang perawat lewat, saya meminta bantuan oksigen dilepas. Seperti jatuh tertidur sekian detik, mata kembali membuka, dan saya minta dipanggilkan pak suami dan entah mengapa, bendungan air mata yang sejak pagi berhasil saya tahan justru bobol pada saat itu. Sedih.

Jam 12.15 pak suami izin solat Jumat, saya iyakan. Sempat ditelepon ibu dan diberikan suntikan semangat. Jam 12.45 saya mencoba duduk. Alhamdulillah sudah tidak pusing. Lalu datang makan siang. Dan minum obat yang diberikan dokter, ada penambah darah, antibiotik, penahan nyeri dan untuk pengecil rahim ke bentuk semula. Jam 13.00 pak suami selesai mengurus admininistrasi. Perawat meminta saya mencoba pipis terlebih dahulu, memastikan tidak ada gangguan pada saat buang air kecil pasca kuretase. Alhamdulillah lagi, lancar. Dan boleh pulang.

***

Mereview keseluruhan hari ini, rasanya saya seperti menonton sinetron. Entah bagaimana 1 hari ini bisa saya lewati dengan sebegitu cepatnya. Masih sedihkah? Iya, tentu saja. But life goes on. Berbekal keyakinan dan semangat dari sahabat-sahabat dan teman-teman yang begitu baik di sekeliling kami, bahwa apapun yang terjadi sudah menjadi kehendakNya. Allah SWT always knows the best. Dan saya tahu, di balik semua ini ada sesuatu yang sudah disiapkanNya untuk kami.

Hanya 8 minggu. Barangkali hanya 8 minggu. Namun  8 minggu ini adalah 8 minggu membahagiakan dan salah satu yang akan terkenangkan sepanjang hidup.

Terimakasih untuk doa dan semangat teman-teman, sangat berarti sekali untuk kami🙂. Foto di atas, adalah foto pada saat baby to be  berusia hampir 6w dan masih keliatan kantong janin saja.

Tagged: , ,

§ 16 Responses to Berakhir di Usia 8 Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Berakhir di Usia 8 Minggu at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: