Self Weaning, Berakhir dengan Cinta

13/09/2011 § 6 Comments

Alhamdulillah. Menjelang 29 bulan kemarin, akhirnya Khonsa memutuskan untuk mengakhiri kebersamaan kami bersama ASI hehe. Beberapa hari menjelang 29 bulan, kata-kata itu akhirnya keluar dari mulut mungilnya. “Sudah buk,  nenen buat bayi, aku udah gede.” Surprise, sekaligus senang ketika Self Weaning itu benar-benar terjadi. Self Weaning yang penuh cinta. Karena rasanya sangat tepat, saat ini kami sudah sama-sama legowo, sama-sama merasa ikhlas ketika harus mengakhirinya. Penyapihan yang luar biasa menurut saya, tanpa tangis dan tanpa penderitaan😀.

Proud of you girl :-*

Sebenarnya, beberapa orang sudah sering menanyakan mengapa kami tidak langsung menyapih Khonsa saat usianya genap 2 tahun. Seringkali kami (saya dan ayahnya) hanya tersenyum jika ditanyai hal ini. Pun demikian saat beberapa orang menyarankan menggunakan bantuan semacam brotowali, atau betadine atau cara-cara ekstrim lainnya. Terus terang, sejak awal kami bersepakat untuk membiarkan Khonsa yang mengakhirinya sendiri. Tentu dengan terlebih dulu memberikan pengertian dan pemahaman mengenai self weaning kepada Khonsa.

Sebelum 2 tahun kami sudah mengupayakan untuk memberikan pengertian tersebut kepadanya dalam setiap kesempatan yang memungkinkan, terutama sebelum tidur saat kami biasanya bercanda dan bercengkerama bersama. Saya ingat, biasanya Khonsa akan mengangguk-angguk dan tersenyum,lalu mengatakan iya. Dan ternyata ketika usianya 2 tahun, rupanya Khonsa masih sekedar mengangguk saja sambil tetap mencari-cari si nenen setiap akan tidur. Beberapa kali saat terbangun di tengah malam, masih juga mencari-cari nenen. Dan begitu terus sampai sekitar pertengahan Agustus kemarin.

Malam-malam terakhir menjelang self weaning memang beberapa kali Khonsa tertidur tanpa harus ditemani nenen terlebih dahulu. Hingga tak sadar suatu hari mendekati ulang bulan ke 29, keluarlah perkataan seperti yang saya tuliskan di atas. Whoaaa. Lega. Surprise. Dan masih tak percaya. Ternyata beginilah rasanya self weaning.

Kini, menjelang tidur Khonsa biasanya mengajak kami menyanyikan lagu anak-anak. Atau bercerita. Mengobrol yang sebenarnya lebih banyak mendengarkan celotehnya tentang apa yang dilakukannya seharian. Atau kali lain belajar berdoa, doa sehari-hari yang biasanya berakhir dengan dia tertidur lelap. Dan saat memandangnya terlelap, saya yang biasanya mbrebes mili mengingat masa-masa menyusui yang kami lewati bersama.

Semoga engkau senantiasa bertumbuh menjadi seorang sholihah.
Terimakasih untuk hari-hari yang luar biasa, breastfeeding with love, and self weaning (also) with love.

Breastfeeding is a gift that lasts a lifetime.  ~Author Unknown

Tagged: ,

§ 6 Responses to Self Weaning, Berakhir dengan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Self Weaning, Berakhir dengan Cinta at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: