Kuliah Ala The King’s Speech

13/08/2011 § 8 Comments

Pertengahan minggu ini ada salah satu perkuliahan yang unik. Jika dalam perkuliahan biasanya kami belajar dari buku-buku literatur tebal yang bisa dipakai nimpuk maling, maka kali ini dosen “memaksa” kami untuk kuliah dari film. Dan film yang terpilih untuk mewakili kuliah kepemimpinan di sesi terakhir sebelum mid test pekan depan ini adalah The King’s Speech.😀

The King’s Speech sendiri merupakan film yang konon katanya memang diangkat dari kisah nyata raja George VI, ayahnya Ratu Elizabeth si ratu Inggris. Pangeran Albert (Colin Firth) , yang di keluarganya dipanggil Bertie, merupakan anak Raja George V yang mengalami masalah kegagapan saat berbicara/pidato di depan umum. Sebagai seorang pemimpin, sudah tentu seseorang harus mampu berbicara di depan umum dengan baik, lancar, dan tertata. Bagaimana cara dia mengatakan sesuatu tentu akan mempengaruhi pendengarnya, dalam hal ini si rakyat.

Nah, si Bertie ini memiliki masalah kegagapan tadi. Kemudian istrinya (Helena Bonham Carter) mencarikan terapis untuk mengatasi masalah tersebut, namun selalu berakhir dengan kegagalan. Sampai suatu hari dia meminta tolong Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang ahli terapi bicara yang katanya bisa menyembuhkan permasalahan kegagapan. Kalau pendapat saya sih sebenarnya sentra konflik ini terjadi pada saat si Bertie ini belajar mengatasi kegugupannya atas bimbingan Lionel. Lionel ini memiliki metode yang unik dalam membantu Bertie mengatasi kegagapannya. Lionel memposisikan dirinya sebagai teman, tak peduli bahwa pada kenyataannya Bertie adalah Duke of York yang suatu saat nanti akan mewarisi tahta raja George V.



Hingga suatu hari raja George V wafat. Menurut aturan kerajaan, kakak Bertie yang bernama Edward-lah yang harus meneruskan tahta ayahnya, namun ternyata Edward lebih memilih menikahi seorang janda Amerika yang dicintainya, dan bagi anak raja hal ini dianggap sedikit inkonstitusional pada masa itu. Pilihan Edward inilah yang kemudian mau tak mau menjadikan si Bertie harus naik tahta menjadi Raja George VI.

Lalu apa kabar terapi kegagapan ala Lionel? Well, pada awalnya tidak berjalan lancar. Bertie awalnya menolak meneruskan, apalagi saat Lionel menyuruhnya membaca buku To Be or Not To Be (Hamlet bukan ya? CMIIW).  Bertie merasa dipermainkan, tetapi saat itu Lionel sudah berhasil merekam suaranya pada saat membaca buku tersebut sambil mendengarkan musik keras-keras. Hasilnya ternyata di luar dugaan, dalam rekaman tersebut Bertie bisa berbicara lancar, sukses tanpa gagap.

Singkatnya, Bertie pun kemudian percaya kepada Lionel. Saat itu Lionel sempat mengatakan bahwa, kegagapan Bertie ini ada hubungannya dengan permasalahan emosional dan psikologis. Nanti akan terungkap bahwa Bertie memang memiliki trauma terhadap masa lalunya, dan kegagapan itu dimulai pada saat dia berusia 5 tahun. Saat itu Bertie kecil dituntut untuk tampil sempurna tanpa cela, termasuk ketika dia memiliki potensi kidal, si orangtuanya memaksa Bertie untuk tidak kidal.

Dengan meninggalnya Raja George V dan ketidakmauan Edward naik tahta, secara otomatis Bertie menjadi Raja George VI.  Setelah diangkat menjadi Raja, kemudian Bertie akan mengalami masa-masa sulit, yakni ketika Inggris harus memasuki masa peperangan kembali. Pada momen tersebut, Raja George VI diharuskan berpidato (dan disiarkan ke seluruh negeri dan dunia), mengumumkan kondisi perang kepada rakyatnya sekaligus memberikan keyakinan bahwa Inggris akan bisa melewati masa-masa sulit tersebut. Kira-kira, berhasil nggak ya Raja George VI berpidato dengan penuh kharisma dan lancar?  Lalu bagaimana sikap Raja George VI saat mengetahui bahwa Lionel bukanlah dokter seperti yang selama ini disangkanya? Silakan saksikan sendiri :p.

Dosen mata kuliah kepemimpinan kami kemudian meminta beberapa teman untuk berpendapat mengenai hikmah yang bisa diambil dari menonton film tersebut. Sesuai dengan mata kuliah kami, beberapa teman mengemukakan persepsi mereka terhadap film The King’s Speech dari sisi pemimpin. Bagaimana seorang pemimpin harus pantang menyerah, tidak putus asa, mau belajar, menerima kekurangan, rela berkorban and the bla and the bla😀.Turning point ketika Bertie menyadari dan menerima kekurangannya berupa gagap, yang kemudian hal tersebut menjadikannya bekerja lebih keras untuk menghilangkan kegagapan tersebut.

Barangkali yang menarik, ketika teman yang tepat duduk di depan saya mengemukakan persepsinya terhadap film The King’s Speech dari sudut berbeda. Bukan dari sisi kepemimpinan, tetapi dari sisi parenting. Teman saya ini mengatakan, satu hal yang penting dan harus diingat setiap orangtua adalah, bagaimana kita mengasuh/mendidik anak pada saat kecil, akan berpengaruh di masa ketika sudah dewasa. Bertie diceritakan gagap sejak 5 tahun, dituntut untuk selalu tampil tanpa cela, tidak boleh bermain selayaknya anak-anak lain dll.  Dengan posisi yang selalu tertekan, kemudian muncullah efek negatif berupa kegagapan yang muncul saat dia harus berbicara dan berpendapat. Ini artinya, kita tak boleh mem-pressure anak-anak kita semau kita. Anak-anak memiliki masa dan karakteristiknya sendiri. Kalau boleh saya tambahkan, masing-masing memilik keunikan, tugas orangtua adalah mengarahkannya menuju jalan yang baik (membimbing), bukan memaksanya menjadi seperti yang orangtua inginkan. Wow, double combo! Hehe.

Terus terang, meski bukan pertama kalinya nonton The King’s Speech, kemarin saya cukup menikmati menonton film tersebut ramai-ramai satu kelas. Menyenangkan juga ternyata kuliah dengan sesekali mengambil pelajaran dari film-film yang tentunya ada hubungannya dengan mata kuliah tersebut. Dan kuliah hari itu selesai tepat pada saat magrib, diakhiri dengan buka puasa bersama😀.

Tagged: ,

§ 8 Responses to Kuliah Ala The King’s Speech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kuliah Ala The King’s Speech at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: