Dua Tahun yang Luar Biasa

05/04/2011 § 13 Comments

Tanggal yang sama, dua tahun lalu.
Jam-jam seperti sekarang, saya asyik memandangi si bayi kecil yang baru saja lahir.  Esok pagi sebelumnya bak mimpi. Setelah semalam sebelumnya saya tertatih datang ke rumah bersalin karena kontraksi yang semakin kuat. Malam panjang yang kami lalui dengan benar-benar menghitung detik di tengah kesunyian.

Sabtu pagi, 04 April 2009.

Beranjak subuh, perut terasa agak mulas dan ternyata ada flek. Sudah lewat 2 pekan semenjak HPL yang diperhitungkan oleh dokter. Di kartu periksa tertera HPL si bayi adalah 23 Maret 2009. Rencananya, siang tanggal 04 April 2009 itu dokter kandungan di RS PKU Muhammadiyah Bantul akan melakukan induksi jika si mulas tak kunjung tiba. Si Ayah seperti biasa setiap weekend mengunjungi saya yang melahirkan di rumah orangtua. Sabtu subuh itu beliau masih ada di KA Senja Utama Jakarta-Jogja saat menerima SMS dari saya, “Sepertinya ini harinya Yah.”

Bergegas saya mandi dan membersihkan diri, menanti kedatangan si Ayah lanjut ke bidan untuk periksa. Pagi itu ternyata masih bukaan 1, dengan santai ibu bidan mengatakan kemungkinan besar si bayi baru akan lahir esok pagi, jadi kami diminta pulang saja menunggu.

Sabtu sore, 04 April 2009.

Kembali mengunjungi bidan untuk diperiksa. Masih bukaan 2 ternyata😀. Seharian saya masih bisa tertawa-tawa, makan es krim, nonton ulang film Laskar Pelangi, jalan-jalan dsb. Ibu bidan kembali menyuruh kami pulang dan menunggu tanda-tanda melahirkan lebih lanjut di rumah saja. Masih esok pagi, kata beliau.

Sabtu malam, 04 April 2009 selepas isya.

Kontraksi mulai sering. Setiap 10 menit sekali terasa mulas. Berdiri salah, duduk salah, jongkok salah. Makan mulai tak enak (Mamah memaksa saya mengisi perut agar saat melahirkan punya tenaga untuk mengejan). Saya meminta suami memijat punggung, mengelus punggung, dst. Tertatih saya mengatur napas, mencoba mengingat semua ilmu yang dipelajari tentang menghadapi kontraksi. Jangan dilawan. Itu satu-satunya yang saya ingat.

Sabtu malam, 04 April 2009 menjelang setengah 11.

Mamah menyuruh kami bergegas ke rumah bersalin. Sampai di sana, sudah bukaan 4.  Luar biasa. Kontraksi semakin sering. Benar kata buku, kontraksi yang sesungguhnya adalah mulai bukaan 4 dst.  Ibu bidan mengatakan prediksinya, subuh paling baru lahir. Saya disuruh menunggu dengan tenang. Tidak panik, tidak melawan rasa sakit. Atur napas, simpan tenaga untuk mengejan.

Dan malam itu, saya, si Ayah dan seorang bulik yang menemani kami terjaga sepanjang waktu. Tak bisa memejamkan mata sejenak. Kontraksi datang bertubi-tubi. Benar-benar luar biasa. Saya berkali-kali menyuruh si Ayah memanggil bu bidan untuk mengecek, sudah lengkap belum bukaannya.  Rasanya sudah sangat ingin mengejan. Dorongannya begitu kuat.

Setiap satu jam sekali, bukaannya bertambah 1. Dan bu bidan itu memang luar biasa, beliau menyempatkan diri solat malam (tahajud) di tengah-tengah menunggu proses kelahiran Khonsa.

Ahad dinihari, 05 April 2009, menjelang setengah 4 pagi.

Bukaannya sudah lengkap. Hanya ketuban belum juga pecah. Bu bidan berkeras menambah waktu menunggu. Sekitar 10 menit, ada sesuatu yang saya rasakan merembes keluar. Kata beliau, ketubannya rembes. Inilah waktunya.  Saya disuruh mengejan dengan benar. Si Ayah menyangga punggung dan memegangi tangan saya, dan dimulailah proses melahirkan itu.

Sungguh, pada saat itu, saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Benar-benar memasrahkan diri kepada Allah SWT. Sempat terlintas, jika hanya dalam 1 detik saja nafas ini terputus, maka semuanya akan usai. Dalam hati saya berdoa Ya Allah kuatkan, sambil tak henti berdzikir.  Di antara proses mengejan yang cukup lama karena ternyata Khonsa lahir cukup besar, diam-diam saya terbayang wajah Mamah. Terbayang wajah alm. Bapak tercinta. Saya sudah tak tahu lagi siapa yang mengatakan dorong, siapa yang saya remas tangannya, siapa yang menyemangati dengan mengatakan rambutnya sudah terlihat, telinganya sudah terlihat dst. Konsentrasi saya hanya pada si bayi. Apapun, segera, agar dia keluar dengan selamat dan sehat.

Ahad pagi, bersamaan dengan adzan Subuh yang menggema.

Si bayi lahir dg BB 3,6kg dan PB 48cm. Luar biasa lega. Alhamdulillah terlahir sehat dan lengkap. Saya menangis saat itu, pun demikian dengan si Ayah. Speechless.  Kami memberinya nama Khonsa Nurina Utami.

***

Dan hari ini, genap 2 tahun semenjak kelahiran Khonsa.  Kami bersyukur dia tumbuh dengan sehat. Alhamdulillah juga, genap 2 tahun kami berjuang bersama ASI😀. Hari-hari awal kelahirannya saya sempat tertatih dan tidak PD dengan ASI. Awal masuk kantor yang membuat saya tergugu menangis karena masih belum bisa mencari celah untuk menyetok ASI.  Hampir dua bulan mengalami nursing strike sebelum akhirnya sembuh dan kembali nenen. Bulan kesembilan, stock ASIP sempat kosong dan kemudian saya mengajukan cuti 3 hari untuk mengumpulkan tetes demi tetes ASI hingga terkumpul 12 botol kembali.  Semua berjalan bukannya tanpa halangan hingga hari ini lulus S3 ASI.

Saya masih mengingat tangis dan senyum pertamanya. Pertama kali dia belajar berguling dan tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, hingga berlari seperti sekarang. Dari mulai tumbuh 1 gigi, 2 gigi, hingga sekarang 18 gigi. Bagaimana malam-malam yang kami lalui saat ia demam dan rewel karena sakit, saat kami harus mengunjungi dokter dan membawanya ke UGD jam  4 pagi karena lemas dan muntah parah karena diare.

Pertama kali dia bersuara, bubling macam-macam, menyebut dan memanggil Yayahnya pertama kali, menyebut saya ibu, menyebutkan namanya osa nunina, hingga saat sekarang sudah mulai merangkai kata.

Waktu berjalan sangat cepat.  Dua tahun yang indah, luar biasa, dan masih akan ada hari-hari indah seterusnya bersamanya. Insya Allah. Terima kasih telah mengajarkan Ibu dan Ayah tentang kesabaran, cinta dan kasih sayang. Setiap doa yang terselip untukmu, mudah-mudahan engkau menjadi anak yang sholihah selalu. Amiin.

I am not a perfect mother and I’ll never be. You are not a perfect child and you will never be. But put us together and we will be the best mother and child we would ever be [Zoraida Pesante]

Tagged: ,

§ 13 Responses to Dua Tahun yang Luar Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dua Tahun yang Luar Biasa at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: