Karena Pernikahan itu Sebuah Perjalanan

30/03/2011 § Leave a comment

Sepagi ini saya chating dengan salah satu teman sekelas kuliah dan membicarakan topik yang sok berbobot tentang pernikahan.  Dimulai dengan sebuah percakapan darinya : “enak ya mbak kalau udah nikah dan punya anak, kalau pas libur kuliah begini bisa main-main sama si kecil. Pengen deh berkeluarga, punya istri trus punya anak, tapi masih takut dan ragu-ragu, jiwaku kan jiwa petualang, masih pengin main-main.” Dan mengalirlah sebuah percakapan yang agak berat. Tentang pernikahan, tentang berkeluarga, tentang komitmen, tentang anak, dan semuanya.

Saya memulai menanggapinya dengan sebuah ungkapan, ‘rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau’.  Ketika teman saya menyatakan rasa irinya melihat teman-teman yang berkeluarga, maka jujur saya mengatakan, terkadang saya juga iri melihat teman-teman sebaya yang masih single dan bisa main kesana kesini, bisa jalan dengan teman-teman lainnya. Bukan berarti ketika menikah tidak bisa lagi jalan-jalan atau keluar rumah, tetapi maksud saya adalah jalan dengan teman-teman, seperti saat saya masih berstatus single dulu.

Yaa. Kalau boleh dikatakan, selalu ada konsekuensi atas tindakan atau keputusan yang sudah kita ambil. Ketika kita memutuskan menikah, berkomitmen dunia akhirat untuk membangun keluarga,itu artinya kita harus siap untuk tanggung jawab terhadap keputusan tersebut. Bertindak sebaik-baiknya sebagai suami/istri, dan terlebih lagi ketika kemudian diamanahi sebagai orangtua. Semua itu adalah paket. Paket yang kita pilih dan harus dijalani. Suka atau tidak, siap atau tidak, itulah konsekuensi menikah.

Lalu, apakah dengan menikah kemudian banyak hal yang tak bisa dilakukan lagi seperti halnya saat masih single? Teman saya ini, takut ketika sudah menikah dia tak bisa lagi jalan dengan teman-temannya, tak bisa lagi main dengan teman-temannya. Emmm, sejujurnya kalau boleh berpendapat saya akan mengatakan tidak sepenihnya begitu.  IMHO, setiap suami/istri punya kebutuhan aktualisasi diri masing-masing, sebagai pria maupun sebagai wanita. Seharusnya pernikahan tidak menghalangi keduanya untuk tetap bergaul dengan teman-temannya. Hanya saja, ketika sudah menikah maka kebutuhan aktualisasi dan sosialisasi itu seharusnya diselaraskan dengan status masing-masing.  Misalnya, ingat waktu dan tidak melupakan kewajiban dan tanggungjawab masing-masing sebagai seorang suami/istri.

Apa yang ingin saya coba sampaikan adalah, pernikahan itu bukan sesuatu yang saklek. Artinya, pernikahan seperti apa yang kita inginkan, sebenarnya tergantung dari kedua belah pihak, si suami dan si istri. Setiap pernikahan pasti memiliki visi dan misi masing-masing.  Bagaimana pernikahan akan dijalankan dan dijalani, itu tergantung si nahkoda di dalamnya. Yang jelas, semuanya butuh komunikasi, saling pengertian dan saling memahami.  Seperti kata pepatah, marriage is not a destination, it is a journey. Tidak perlu takut, tidak perlu terlalu banyak memikirkan begini dan begitu.  Menikah itu perjalanan panjang seumur hidup.😀

(untuk seorang teman, jangan takut menikah boy :P)

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Karena Pernikahan itu Sebuah Perjalanan at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: