Khadimatku, Sahabatku

13/05/2010 § 7 Comments

Diantara sekian hal nikmat ALLAH SWT yang saya syukuri adalah, memiliki khadimat sebaik pengasuh Khonsa sekarang ini.

Ya, entah sudah berapa kali saya mendengar curhat para ibu sehubungan dengan ART/ khadimatnya yang bermasalah. Ada yang kerjanya tidak beres, ada yang kebiasaannya tak bisa ditolerir, sampai kisah soal khadimat yang pamit pulang kampung untuk suatu hal, dan ternyata tak kembali lagi.  Kisah yang berwarna dan beraneka ragam, yang pada awal masa pernikahan dan kehamilan sempat membuat saya bimbang dan takut. Takut jika mendapat khadimat bermasalah dan tak sesuai dengan apa yang kami inginkan,😀. Apalagi mengingat status saya sebagai ibu bekerja yang mengharuskan meninggalkan anak-anak dengan pengasuh. Beberapa ibu bekerja memang memungkinkan meninggalkan anak-anak mereka dengan para nenek, tetapi hal itu tak berlaku buat keluarga kami.  Selain terpisah jarak beratus-ratus kilometer, kebetulan ibu saya dan ibu ayahnya khonsa sama-sama punya kesibukan alias bekerja. Jadilah mau tak mau memiliki khadimat untuk mengasuh si kecil menjadi satu hal yang tak terhindarkan.

Saya dipertemukan dengan si mbak W (sebut saja begitu) sekitar 2 bulan menjelang HPL kelahiran Khonsa. Almarhum Bapak yang saat itu mencarikan khadimat, dan dipertemukanlah kami dengan si mbak yang berasal dari tetangga desa kampung saya. Mbak W sebelumnya memang sudah berpengalaman mengasuh bayi dan anak, jadi begitu mendengar hal tersebut saya setuju-setuju saja dengan pilihan ini. wal-awalnya, saya demikian canggung harus berhadapan dengan kehadiran orang ketiga di rumah,😀. Jika sebelumnya rumah hanya diisi saya dan suami, mulai saat itu kami harus berbagi dengan mbak W. Sulit? Awalnya terbayang iya, namun ternyata semua mengalir alami begitu saja dengan mudah. Mbak W bisa menunaikan tugasnya dengan baik tanpa harus melanggar privacy yang kami miliki, pun demikian sebaliknya, saya selalu berusaha memberikan ruang bagi mbak W untuk dirinya sendiri.

Lantas, bagaimana dengan masalah kontrak kerja, gaji, perjanjian tugas-tugasnya dll? Believe it or not, hanya 1 hal yang kami sepakati sejak awal, yakni masalah gaji dan tetek bengek penghasilannya. Soal lainnya, lagi-lagi mengalir begitu saja. Bukan apa-apa, saya bukan termasuk orang yang perfect dan telaten mengatur printilan-printilan kecil tetek bengek urusan beginian, hehe. Jadi akhirnya semua berjalan Tahu Sama Tahu. Apa saja yang perlu mbak W kerjakan dan tidak, dan apa-apa yang memang saya ingin kerjakan sendiri.

Lama-kelamaan, ternyata si mbak menjadi salah satu sahabat saya. Pun demikian, saya selalu berusaha menjadi sahabat yang baik bagi si mbak. Menjadi tempatnya bercerita, berusaha memberikan alternatif solusi permasalahannya, saling berbagi tentang info-info masalah dapur,  pengasuhan anak, dll. Banyaakkk. Dan tanpa saya sadari hal-hal itu ternyata menyenangkan.

Satu hal yang saya syukuri, mbak W ternyata sosok yang benar-benar sayaaaang sekali dengan Khonsa.  Semenjak Khonsa masih berusia newborn, gendongan mbak W menjadi salah satu tempat nyaman Khonsa. Ketika saya tak ada misalnya, mbak W akan bisa menenangkannya dengan satu atau dua jurus gendongan menenangkan bayi, hehe. Si mbak pun bisa telaten mengasuh si kecil. Ketika cuti bersalin saya habis, si mbak saya kursus secara khusus untuk mengelola manajemen ASIP si kecil. Bagaimana cara memanaskan ASIP, steril botol dan dot, cara menyimpan ASIP, memberikannya kepada si kecil, hingga menyiasati supaya stok ASIP bisa terus terjaga😀. Termasuk kursus menghadapi MPASI, perawatan anak, stimulasi permainan dan perkembangan motorik bayi, dsb.

Jika sesekali ada sesuatu yang mengecewakan, saya anggap hal itu adalah sebuah kewajaran. Misalnya ketika si mbak lupa dengan pesan kita, atau lupa dengan beberapa detail yang sudah kita siapkan. Ya, namanya manusia, salah itu wajar kan? Paling saya menegurnya dengan gaya candaan sesama perempuan. Biar enak dan sama-sama nyaman. Walupun pernah sekali dua kali ada kesalahan yang agak berat, namun saya tetap berusaha menjaga cara-cara untuk mengkomunikasikannya dengan si mbak dengan kepala dingin.

Ya, hingga hari ini terhitung sudah hampir satu setengah tahun si mbak ikut bersama kami. Mudah-mudahan sih betah. Walaupun saya sadar, suatu hari nanti ketika si mbak ini bertemu jodohnya, besar kemungkinan saat itu mbak W akan ikut dengan suaminya. Ya, jika saat itu tiba, saya hanya ingin si mbak mengingat saya sebagai sahabatnya. Tidak kurang, tidak lebih. As one of her bestriend (mudah-mudahan ya mbak, amin).

Jakarta, awal Mei 2010.

Jurnal ini ditulis sesaat setelah kami selesai nonton DVD film korea bersama,😀

Foto : Khonsa dg mbak W.

Tagged: , ,

§ 7 Responses to Khadimatku, Sahabatku

  • bundamahes says:

    Lho tadi pagi aku baca settingan masih yang dulu, eh sekarang balik ke yang ungu ini, gimana sih?!
    betewe, kejadian di atas adalah kebalikan dari yang aku alami, hiks.. budhe ngeyelan!😦

    • ummukhonsa says:

      pencarian jati diri template mbak
      hahay…

      wah, budhenya mahes ngeyelan to? tapi masih bisa dikasih tahu kan? yg penting sayang sama mahes🙂
      telaten ngrawat anak,,,

      • bundamahes says:

        iya sih, bapakku yo bilang sing penting baik buat Mahes, perkara kerjaan rumah terbengkalai itu bisa diurus belakangan. tapiiiiiiiiiiiiiii..kadang bikin emosi juga! wangsulan, hiks..

  • shoim says:

    ::curhat dulu::
    paling nggak bisa komen sebenernya, hihihihiii… karena g bakat nulis

    ::ini komennya::
    alhamdulilah tante termasuk dalam keluarga yg dpt ART yang baik, habis kayanya di kantor ibu2 sukanya ngedumel soal ARTnya, adaaaa aja yang dijadiin bahan ndumel, heran….

    ::doa::
    berhubung sekarang lagi dicariin ART sama ortu, mudah2an nanti aku berjodoh sama ART yang baik juga, amiiiiinn…

  • affa says:

    huff yg paling ditakutkan dan bikin goncang rumah adalah gmana klo khodimat resign tp harus siap siap hehehhe

    mantab mbaknya khonsa

    • ummukhonsa says:

      kalau khadimat resign, solusi darurat adalah mendatangkan kerabat hehe… dan pasti ambil cuti mendadak untuk ambil alih sementara
      iya alhamdulillah ketemu yg cocok.
      makasih sudah mampir pak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Khadimatku, Sahabatku at Catatan Kecil Rina.

meta

%d bloggers like this: